Ayah:
TAFSIR SURAT AL-FATH ( Kemenangan )
TAFSIR SURAT AL-FATH ( Kemenangan )
Madaniyyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
Ayah: 1 - 3 #
{إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا (1 ضضض) لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (ضضض 2) وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا (3)}
"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada kamu keme-nangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang serta menyem-purnakan nikmatNya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak)." (Al-Fath: 1-3).
#
{1} هذا الفتحُ المذكور هو صلحُ الحديبيةِ، حين صدَّ المشركون رسولَ الله - صلى الله عليه وسلم - لمَّا جاء معتمراً في قصة طويلة ، صار آخر أمرها أن صالحهم رسولُ الله - صلى الله عليه وسلم - على وَضْع الحرب بينه وبينهم عشر سنين، وعلى أن يعتمرَ من العام المقبل، وعلى أنَّ مَن أراد أن يَدْخُلَ في عهد قريش وحلفهم؛ دَخَلَ، ومن أحبَّ أن يدخُلَ في عهد رسول الله - صلى الله عليه وسلم - وعقده؛ فعل. وسبب ذلك لما أمَّن الناس بعضهم بعضاً؛ اتَّسعت دائرة الدعوة لدين الله عزَّ وجلَّ، وصار كلُّ مؤمن بأيِّ محلٍّ كان من تلك الأقطار يتمكَّن من ذلك، وأمكن الحريص على الوقوف على حقيقة الإسلام، فدخل الناسُ في تلك المدَّة في دين الله أفواجاً؛ فلذلك سمَّاه الله فتحاً، ووصفه بأنَّه فتحٌ مبينٌ؛ أي: ظاهرٌ جليٌّ، وذلك لأنَّ المقصود في فتح بلدان المشركين إعزازُ دين الله وانتصار المسلمين، وهذا حصل بذلك الفتحُ.
(1) Kemenangan yang disebut di atas adalah Perjanjian Hudaibiyah yaitu ketika kaum musyrikin mencegah Rasulullah a yang hendak melaksanakan umrah sebagaimana yang tertera dalam kisah yang panjang.[90] Di akhir kisahnya Rasulullah a berdamai dengan mereka untuk tidak berperang di antara kedua belah pihak dalam waktu sepuluh tahun. Rasulullah a umrah pada tahun mendatang, bagi siapa pun yang ingin masuk dalam pihak kaum Quraisy dipersilahkan dan bagi siapa pun yang ingin masuk dalam pihak Rasulullah a dipersilahkan. Dampak baik dari perjanjian ini adalah ketika semua pihak saling memberi rasa aman satu sama lain, kawasan dakwah untuk agama Allah r pun semakin luas, sehingga semua orang yang ingin masuk Islam di wilayah mana pun kala itu bisa melakukannya, dan dimungkinkan bagi yang memiliki tekad bulat untuk mendalami hakikat Islam. Kemudian pada waktu itu orang-orang pun masuk ke dalam Agama Allah سبحانه وتعالى secara bergelombang, dan karena itulah disebut oleh Allah سبحانه وتعالى seba-gai kemenangan dan juga kemenangan nyata, yaitu kemenangan yang jelas dan nampak. Karena yang dimaksudkan dari penaklukan negeri-negeri kaum musyrikin adalah agar Agama Allah سبحانه وتعالى tegak dan kaum Muslimin meraih kemenangan di mana hal ini tercapai dalam kemenangan tersebut.
#
{2} ورتَّب الله على هذا الفتح عدة أمور، فقال: {ليغفر لك اللهُ ما تقدَّم من ذنبِكَ وما تأخَّر}: وذلك ـ والله أعلم ـ بسبب ما حَصَلَ بسببه من الطاعات الكثيرة والدُّخول في الدين بكثرة، وبما تحمل - صلى الله عليه وسلم - من تلك الشروط التي لا يصبِرُ عليها إلاَّ أولو العزم من المرسلين، وهذا من أعظم مناقبه وكراماته - صلى الله عليه وسلم -: أنْ غَفَرَ الله له ما تقدَّم من ذنبه وما تأخَّر، {ويتمَّ نعمته عليك}: بإعزاز دينك ونصرِك على أعدائك واتِّساع كلمتك، {ويهدِيَك صراطاً مستقيماً}: تنال به السعادةَ الأبديَّة والفلاح السرمديَّ.
(2) Atas kemenangan itu, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan beberapa hal berikutnya seraya berfirman, ﴾ لِّيَغۡفِرَ لَكَ ٱللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنۢبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ ﴿ "Su-paya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang," hal itu disebabkan –wallahu a'lam– karena dampak baik perjanjian Hudaibiyah berupa berbagai ketaatan dan banyaknya orang yang masuk ke dalam Agama Allah سبحانه وتعالى, dan juga karena kesabaran Rasulullah a dalam menanggung beban butir-butir perjanjian yang tidak akan bisa dipikul melainkan oleh rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati. Dan inilah salah satu kehebatan dan karamah Rasulullah a, yaitu dosa-dosa beliau yang telah ber-lalu dan yang akan datang telah diampuni oleh Allah سبحانه وتعالى , ﴾ وَيُتِمَّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكَ ﴿ "serta menyempurnakan nikmatNya atasmu," dengan mengokoh-kan Agamamu dan memberikan kemenangan kepadamu atas musuh-musuhmu serta memperluas dakwahmu, ﴾ وَيَهۡدِيَكَ صِرَٰطٗا مُّسۡتَقِيمٗا ﴿ "dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus," dengan jalan itu engkau mendapatkan kesenangan dan keberuntungan abadi.
#
{3} {وينصُرَك الله نصراً عزيزاً}؛ أي: قويًّا لا يتضعضعُ فيه الإسلام، بل يحصُلُ الانتصار التامُّ وقمع الكافرين وذُلُّهم ونقصُهم، مع توفُّر قوى المسلمين ونموِّهم ونموِّ أموالهم؛ [ثم] ذكر آثار هذا الفتح على المؤمنين، فقال:
(3) ﴾ وَيَنصُرَكَ ٱللَّهُ نَصۡرًا عَزِيزًا ﴿ "Dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat," yaitu pertolongan yang kuat yang dengannya Islam tidak akan tergoyahkan, justru akan diperoleh kemenangan sempurna serta menundukkan, merendahkan serta mengurangi jumlah orang-orang kafir, di samping terpenuhi dan berkembang-nya kekuatan kaum Muslimin serta banyaknya harta mereka. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan dampak baik perjanjian ini atas orang-orang Mukmin seraya berfirman,
Ayah: 4 - 6 #
{هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا (4) لِيُدْخِلَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَيُكَفِّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَكَانَ ذَلِكَ عِنْدَ اللَّهِ فَوْزًا عَظِيمًا (5) وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا (6)}
"Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang Mukmin supaya keimanan mereka bertambah di sam-ping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana, supaya Dia memasukkan orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan yang demikian itu adalah ke-beruntungan yang besar di sisi Allah, dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapatkan giliran (kebina-saan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka Neraka Jahanam. Dan (Neraka Jahanam) itulah seburuk-buruk tempat kembali." (Al-Fath: 4-6).
#
{4} يخبر تعالى عن منَّته على المؤمنين بإنزال السكينة في قلوبهم، وهي السكونُ والطمأنينةُ والثباتُ عند نزول المحنِ المقلقةِ والأمور الصعبة التي تشوِّشُ القلوبَ وتزعجُ الألباب وتضعِفُ النفوس؛ فمن نعمة الله على عبده في هذه الحال أن يثبِّتَه ويربطَ على قلبه، وينزِلَ عليه السكينةَ، ليتلقَّى هذه المشقَّاتِ بقلبٍ ثابتٍ ونفس مطمئنةٍ، فيستعدَّ بذلك لإقامة أمر الله في هذه الحال، فيزداد بذلك إيمانُه، ويتمَّ إيقانُه. فالصحابةُ رضي الله عنهم لمَّا جرى ما جرى بينَ رسول اللهِ - صلى الله عليه وسلم - والمشركين من تلك الشروطِ التي ظاهرُها أنَّها غضاضةٌ عليهم وحطٌّ من أقدارِهم، وتلك لا تكادُ تصبِرُ عليها النفوس، فلما صبروا عليها ووطَّنوا أنفسَهم لها؛ ازدادوا بذلك إيماناً مع إيمانهم. وقوله: {ولله جنودُ السمواتِ والأرضِ}؛ أي: جميعها في ملكه وتحت تدبيره وقهره؛ فلا يظنُّ المشركون أنَّ الله لا ينصُرُ دينَه ونبيَّه، ولكنَّه تعالى عليمٌ حكيمٌ، فتقتضي حكمته المداولةَ بين الناس في الأيام وتأخيرَ نصر المؤمنين إلى وقتٍ آخر.
(4) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang karuniaNya kepada kaum Mukminin dengan menurunkan ketenangan di hati mereka, kete-nangan itu berupa kedamaian serta keteguhan hati saat musibah menggetarkan serta berbagai hal berat menerpa mereka yang mengusik hati, mengganggu pikiran, dan melemahkan jiwa. Di antara nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى yang diberikanNya kepada hamba-hambaNya dalam situasi seperti ini adalah dengan meneguhkan-nya dan mengikat keteguhan tersebut di hati mereka dan menu-runkan ketenangan agar berbagai beban berat tersebut bisa mereka hadapi dengan hati yang kokoh dan jiwa yang tenang sehingga siap untuk menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى pada situasi sulit seperti itu. Dengan pertolongan itu, keimanan mereka semakin bertam-bah dan keyakinannya semakin sempurna. Para sahabat رضي الله عنهم pada saat terjadinya peristiwa antara Rasulullah a dan kaum musyrik dengan berbagai butir-butir kesepakatan yang nampaknya meren-dahkan mereka dan menghina kemampuan mereka itu, hampir membuat jiwa mereka tidak sabar, tetapi tatkala mereka meng-hadapinya dengan sabar dan mereka menguatkan diri, keimanan mereka pun semakin bertambah. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِلَّهِ جُنُودُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi," yakni, semuanya berada dalam pengaturan kekuasaanNya, maka jangan sekali-kali orang-orang musyrik mengira bahwa Allah سبحانه وتعالى tidak akan menolong Agama dan NabiNya, karena sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui lagi Bijaksana, yang kebijaksanaanNya meng-haruskan adanya pergantian kemenangan di antara manusia serta menunda kemenangan kaum Muslimin di waktu lain.
#
{5} {ليدخِلَ المؤمنين والمؤمناتِ جناتٍ تجري من تحتِها الأنهارُ خالدينَ فيها ويكفِّرَ عنهم سيئاتِهِم}: فهذا أعظمُ ما يحصُلُ للمؤمنين؛ أي: يحصُلُ لهم المرغوبُ المطلوبُ بدخول الجنات، ويزيل عنهم المحذور بتكفير السيئات، {وكان ذلك}: الجزاء المذكورُ للمؤمنينَ، {عند الله فوزاً عظيماً}: فهذا ما يفعلُ بالمؤمنين في ذلك الفتح المبين.
(5) ﴾ لِّيُدۡخِلَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا وَيُكَفِّرَ عَنۡهُمۡ سَيِّـَٔاتِهِمۡۚ ﴿ "Supaya Dia memasukkan orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka." Inilah karunia terbesar yang diperoleh kaum Mukminin, mereka mendapatkan apa-apa yang diinginkan dan diharapkan dengan masuknya mereka ke dalam surga, dan ketakutan mereka dihilang-kan dengan cara penghapusan kesalahan-kesalahan yang mereka miliki, ﴾ وَكَانَ ذَٰلِكَ ﴿ "dan yang demikian itu," balasan yang disebutkan untuk kaum Mukminin, ﴾ عِندَ ٱللَّهِ فَوۡزًا عَظِيمٗا ﴿ "di sisi Alah adalah keberun-tungan yang besar." Inilah yang dilakukan Allah سبحانه وتعالى terhadap orang-orang Mukmin pada peristiwa kemenangan yang nyata itu.
#
{6} وأمَّا المنافقون والمنافقاتُ والمشركون والمشركاتُ؛ فإنَّ الله يعذِّبُهم بذلك ويريهم ما يسوؤُهم؛ حيث كان مقصودُهم خِذلان المؤمنين، وظنُّوا بالله ظنَّ السَّوْءِ أنَّه لا ينصُرُ دينَه ولا يُعلي كلمته، وأنَّ أهل الباطل ستكونُ لهم الدائرةُ على أهل الحقِّ، فأدار الله عليهم ظَنَّهم، وكانت دائرةُ السوء عليهم في الدنيا، {وغضبَ الله عليهم}: بما اقترفوه من المحادَّة لله ولرسولِهِ، {ولَعَنَهم}؛ أي: أبعدهم وأقصاهم عن رحمتِهِ، {وأعدَّ لهم جهنَّم وساءت مصيراً}.
(6) Adapun orang-orang munafik, baik lelaki maupun perempuan dan juga orang-orang musyrik, baik lelaki maupun perempuan, akan disiksa oleh Allah سبحانه وتعالى karena kemunafikan serta kekufuran mereka dan akan memperlihatkan kepada mereka pemandangan yang mengerikan bagi mereka, karena tujuan dan maksud mereka adalah ingin merendahkan kaum Mukminin, mereka juga menyangka buruk terhadap Allah سبحانه وتعالى bahwa Allah سبحانه وتعالى tidak akan menolong agamaNya dan tidak meninggikan kalimat-Nya, mereka juga mengira bahwa orang-orang batil akan mengua-sai orang-orang yang benar. Ternyata Allah سبحانه وتعالى membalikkan duga-an mereka, kekalahan pun menimpa mereka. ﴾ وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Dan Allah memurkai mereka," karena menantang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, ﴾ وَلَعَنَهُمۡ ﴿ "dan mengutuk mereka," dengan menjauhkan mereka dari rahmatNya, ﴾ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرٗا ﴿ "serta menyediakan bagi mereka Neraka Jahanam. Dan (Neraka Jahanam) itulah seburuk-buruk tempat kembali."
Ayah: 7 #
{وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا (7)}.
"Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Al-Fath: 7).
#
{7} كرَّر الإخبار بأنَّ له ملك السماواتِ والأرض وما فيهما من الجنود؛ ليعلم العبادُ أنَّه تعالى هو المعزُّ المذلُّ، وأنَّه سينصر جنودَه المنسوبة إليه؛ كما قال تعالى: {وإنَّ جندَنا لهم الغالبونَ}، {وكان الله عزيزاً}؛ أي: قويًّا غالباً قاهراً لكلِّ شيءٍ، ومع عزَّته وقوَّته؛ فهو حكيمٌ في خلقه. وتدبيرُه يَجري على ما تقتضيه حكمتُه وإتْقانُه.
(7) Allah سبحانه وتعالى mengulang-ulang memberikan kabar bahwa milikNya-lah kerajaan langit dan bumi serta semua tentara yang ada pada keduanya agar semua hamba mengetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah yang memberikan pertolongan dan yang memberikan kehinaan dan supaya para hamba mengetahui bahwa tentara-tentaraNya akan mendapatkan pertolongan sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِنَّ جُندَنَا لَهُمُ ٱلۡغَٰلِبُونَ 173 ﴿ "Dan sesungguhnya tentara kami, merekalah yang akan mendapat kemenangan." (Ash-Shaffat: 173). ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزًا ﴿ "Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." Maha-kuat, Maha Mengalahkan, Maha Menundukkan segala sesuatu. Meski Mahaperkasa dan Mahakuat, Allah adalah Mahabijaksana terhadap para makhlukNya. PengaturanNya berlaku sesuai dengan kebijakan hikmah dan kesempurnaanNya.
Ayah: 8 - 9 #
{إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا (8) لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (9)}
"Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan RasulNya, menguatkannya, membesar-kannya, dan bertasbih kepadaNya di waktu pagi dan petang." (Al-Fath: 8-9).
#
{8} أي: {إنَّا أرسلناكَ}: أيها الرسولُ الكريمُ، {شاهداً}: لأمتك بما فعلوه من خير وشرٍّ، وشاهداً على المقالات والمسائل حقِّها وباطِلِها، وشاهداً لله تعالى بالوحدانيَّة والانفراد بالكمال من كلِّ وجه، {ومبشراً}: من أطاعك وأطاع الله بالثواب الدنيويِّ والدينيِّ والأخرويِّ، ومنذراً من عصى الله بالعقاب العاجل والآجل، ومن تمام البشارةِ والنِّذارة بيان الأعمال والأخلاق التي يبشر بها وينذر؛ فهو المبيِّن للخير والشرِّ والسعادة والشقاوة والحقِّ من الباطل.
(8) ﴾ إِنَّآ أَرۡسَلۡنَٰكَ ﴿ "Sesungguhnya Kami mengutus kamu," wahai rasul yang mulia, ﴾ شَٰهِدٗا ﴿ "sebagai saksi," untuk umatmu terhadap apa yang mereka perbuat, baik dan buruknya, juga sebagai saksi atas segala ucapan dan berbagai masalah, benar dan batilnya, dan sebagai saksi untuk Allah سبحانه وتعالى atas keesaanNya dan hanya Dia se-mata yang memiliki kesempurnaan dari segala segi, ﴾ وَمُبَشِّرٗا ﴿ "dan pembawa berita gembira," bagi yang mau menaatimu dan taat kepada Allah سبحانه وتعالى dengan pahala duniawi, agama dan ukhrawi, dan juga pemberi peringatan bagi yang mendurhakai Allah سبحانه وتعالى dengan siksa yang disegerakan (di dunia) dan yang ditunda (diakhirkan). Di antara kesempurnaan kabar gembira dan peringatan adalah men-jelaskan amal dan akhlak yang disebutkan dalam berita gembira dan peringatan, dan Rasulullah a adalah penjelas untuk kebaikan dan keburukan, kegembiraan dan kesengsaraan, kebenaran dan kebatilan.
#
{9} ولهذا رتَّب على ذلك قوله: {لتؤمِنوا باللهِ ورسولِهِ}؛ أي: بسبب دعوة الرسول لكم وتعليمه لكم ما ينفعكم أرسلناه؛ لتقوموا بالإيمان بالله ورسولِهِ، المستلزم ذلك لطاعتهما في جميع الأمور، {وتعزِّروهُ وتوقِّروهُ}؛ أي: تعزِّروا الرسول - صلى الله عليه وسلم - وتوقِّروه؛ أي: تعظِّموه، وتجلُّوه، وتقوموا بحقوقِهِ، كما كانت له المنَّة العظيمةُ برقابكم، {وتسبِّحوه}؛ أي: تسبِّحوا لله {بكرةً وأصيلاً}: أول النهار وآخره. فذكر الله في هذه الآية الحقَّ المشترك بين الله وبين رسوله، وهو الإيمان بهما، والمختصُّ بالرسول، وهو التعزير والتوقير، والمختصُّ بالله، وهو التسبيح له والتقديس بصلاةٍ أو غيرها.
(9) Karena itulah diteruskan dengan FirmanNya, ﴾ لِّتُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ﴿ "Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan RasulNya." Maksudnya, karena dakwah Rasul yang disampaikan pada kalian dan ajarannya terhadap apa yang membawa manfaat bagi kalian, Kami mengutusnya agar kalian beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan Ra-sulNya yang mengharuskan untuk menaati Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dalam berbagai hal. ﴾ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُۚ ﴿ "Menguatkannya dan membesarkannya." Artinya, supaya kalian menguatkan Rasulullah a dan mengagungkan dan memuliakannya dengan menunaikan hak-haknya sebagaimana Allah سبحانه وتعالى memberikan karunia besar kepada kalian dengan menjaga kalian, ﴾ وَتُسَبِّحُوهُ ﴿ "dan bertasbih kepadaNya," yaitu memahasucikan Allah سبحانه وتعالى ﴾ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلًا ﴿ "di waktu pagi dan petang," yakni, di permu-laan dan penghujung siang. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menyebutkan hak bersama antara hak Allah سبحانه وتعالى dan hak RasulNya, yaitu beriman kepada keduanya, hak yang khusus untuk Rasulullah a adalah dengan menolong dan memuliakannya, sedangkan hak yang khusus bagi Allah سبحانه وتعالى adalah dengan memahasucikanNya dengan Shalat dan lainnya.
Ayah: 10 #
{إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا (10)}
"Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia (berbai'at) kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya, niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar." (Al-Fath: 10).
#
{10} هذه المبايعةُ التي أشار الله إليها هي بيعة الرضوان، التي بايع الصحابةُ رضي الله عنهم فيها رسولَ الله - صلى الله عليه وسلم - على أن لا يفرُّوا عنه؛ فهي عقدٌ خاصٌّ، من لوازمه أن لا يفرُّوا، ولو لم يبقَ منهم إلاَّ القليلُ، ولو كانوا في حال يجوزُ الفرارُ فيها. فأخبر تعالى: {إنَّ الذين يبايِعونَك}: حقيقةُ الأمرِ أنَّهم {يبايِعونَ الله}: ويعقِدونَ العقد معه، حتى إنه من شدَّة تأكُّده أنَّه قال: {يدُ الله فوق أيديهم}؛ أي: كأنهم بايعوا الله وصافحوه بتلك المبايعة، وكلُّ هذا لزيادة التأكيد والتقوية، وحملهم على الوفاء بها، ولهذا قال: {فمن نكث}: فلم يفِ بما عاهد الله عليه، {فإنَّما ينكُثُ على نفسه}؛ أي: لأنَّ وَبال ذلك راجعٌ إليه وعقوبتَه واصلةٌ له، {ومن أوفى بما عاهَدَ عليهُ اللهَ}؛ أي: أتى به كاملاً موفراً، {فسيؤتيه أجراً عظيماً}: لا يعلم عِظَمَه وقَدْرَه إلاَّ الذي آتاه إيَّاه.
(10) Bai'at yang diisyaratkan oleh Allah سبحانه وتعالى dalam ayat ini adalah Bai'at ar-Ridhwan, di mana para sahabat berbai'at setia kepada Rasulullah a untuk tidak lari meninggalkan beliau. Bai'at ini adalah bai'at khusus yang di antara tuntutannya adalah agar tidak lari meski hanya sedikit yang tersisa dan meski mereka ber-ada dalam kondisi boleh lari. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia (berbai'at) kepada kamu," pada dasarnya mereka ﴾ يُبَايِعُونَ ٱللَّهَ ﴿ "berjanji setia (berbai'at) kepada Allah." Mereka mengadakan janji setia terhadap Allah سبحانه وتعالى, dan begitu tegasnya hal itu hingga Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَدُ ٱللَّهِ فَوۡقَ أَيۡدِيهِمۡۚ ﴿ "Tangan Allah di atas tangan mereka." Artinya, seolah-olah mereka membai'at Allah سبحانه وتعالى dan menjabat TanganNya dalam perjanjian itu. Semua penjelasan ini sebagai penegas dan penguat serta mengharuskan mereka untuk menetapinya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ فَمَن نَّكَثَ ﴿ "Maka barangsiapa yang melanggar janjinya," dan tidak mene-pati janjinya kepada Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلَىٰ نَفۡسِهِۦۖ ﴿ "niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri," karena akibat buruk dari pelanggaran janji itu kembali pada mereka dan hukumannya juga akan menimpa mereka. ﴾ وَمَنۡ أَوۡفَىٰ بِمَا عَٰهَدَ عَلَيۡهُ ٱللَّهَ ﴿ "Dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah," yakni, menepati dan melaksanakan-nya secara penuh, ﴾ فَسَيُؤۡتِيهِ أَجۡرًا عَظِيمٗا ﴿ "maka Allah akan memberinya pahala yang besar," yang besarnya hanya diketahui oleh yang mem-beri.
Ayah: 11 - 13 #
{سَيَقُولُ لَكَ الْمُخَلَّفُونَ مِنَ الْأَعْرَابِ شَغَلَتْنَا أَمْوَالُنَا وَأَهْلُونَا فَاسْتَغْفِرْ لَنَا يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ بِكُمْ ضَرًّا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ نَفْعًا بَلْ كَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا (11) بَلْ ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَنْقَلِبَ الرَّسُولُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَى أَهْلِيهِمْ أَبَدًا وَزُيِّنَ ذَلِكَ فِي قُلُوبِكُمْ وَظَنَنْتُمْ ظَنَّ السَّوْءِ وَكُنْتُمْ قَوْمًا بُورًا (12) وَمَنْ لَمْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ فَإِنَّا أَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ سَعِيرًا (13)}.
"Orang-orang Badui (Arab pedalaman) yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan, 'Harta dan keluarga kami telah menyibukkan kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami.' Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah, 'Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudaratan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu.' Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Tetapi kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang Mukmin sekali-kali tidak akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya dan setan telah menjadikan kamu memandang baik da-lam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa. Dan barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah dan RasulNya maka sesungguhnya Kami menyediakan untuk orang-orang yang kafir neraka yang bernyala-nyala." (Al-Fath: 11-13).
#
{11 ـ 13} يذمُّ تعالى المتخلِّفين عن رسول الله في الجهاد في سبيله من الأعراب، الذين ضَعُفَ إيمانُهم وكان في قلوبهم مرضٌ وسوء ظنٍّ بالله تعالى، وأنهم سيعتذرون؛ بأنَّ أموالهم وأهليهم شغلتهم عن الخروج في سبيله، وأنَّهم طلبوا من رسول اللهِ - صلى الله عليه وسلم - أن يستغفرَ لهم؛ قال الله تعالى: {يقولون بألسنَتِهِم ما ليس في قُلوبِهِم}: فإنَّ طلَبَهم الاستغفارَ من رسول الله - صلى الله عليه وسلم - يدلُّ على ندمهم وإقرارهم على أنفسهم بالذَّنب، وأنَّهم تخلَّفوا تخلُّفاً يحتاجُ إلى توبة واستغفار؛ فلو كان هذا الذي في قلوبهم؛ لكان استغفارُ الرسول نافعاً لهم؛ لأنَّهم قد تابوا وأنابوا، ولكنَّ الذي في قلوبهم أنَّهم إنَّما تخلَّفوا لأنَّهم ظنُّوا بالله ظنَّ السَّوْء، فظنُّوا {أن لن يَنقَلِبَ الرسولُ والمؤمنون إلى أهليهم أبداً}؛ أي: أنَّهم سيُقتلون ويُستأصلون، ولم يزلْ هذا الظنُّ يُزَيَّن في قلوبهم، ويطمئنُّون إليه حتى استحكَمَ، وسببُ ذلك أمران: أحدُهما: أنَّهم كانوا {قوماً بوراً}؛ أي: هلكى لا خير فيهم؛ فلو كان فيهم خيرٌ؛ لم يكن هذا في قلوبهم. الثاني: ضَعْفُ إيمانهم ويقينهم بوعد الله ونصرِ دينِهِ وإعلاءِ كلمتِهِ، ولهذا قال: {ومن لم يؤمن بالله ورسولِهِ}؛ أي: فإنَّه كافرٌ مستحقٌّ للعقاب، {فإنَّا أعْتَدْنا للكافرين سعيراً}.
(11-13) Allah سبحانه وتعالى mencela mereka yang tidak ikut jihad ber-sama Rasulullah a dari kalangan orang-orang pedalaman (badui), mereka yang imannya lemah, di hati mereka terdapat penyakit dan berburuk sangka terhadap Allah سبحانه وتعالى, di mana mereka akan datang mengajukan alasan, yaitu alasan harta dan keluarga mereka me-nyibukkan mereka untuk pergi berjihad di jalan Allah سبحانه وتعالى. Mereka juga mengharap supaya Rasulullah a memintakan ampunan untuk mereka, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَقُولُونَ بِأَلۡسِنَتِهِم مَّا لَيۡسَ فِي قُلُوبِهِمۡۚ ﴿ "Mereka me-ngucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya." Karena permintaan istighfar mereka dari Rasulullah a menunjukkan pe-nyesalan mereka serta mereka mengakui dosa mereka, perbuatan mereka yang tidak mengikuti jihad itu memerlukan taubat dan istighfar. Andai saja hal itu terdapat dalam hati mereka, tentu istighfar yang dilakukan Rasulullah a bermanfaat bagi mereka, karena mereka bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, namun adanya mereka tidak ikut pergi jihad adalah karena berburuk sangka terhadap Allah سبحانه وتعالى, mereka mengira, ﴾ أَن لَّن يَنقَلِبَ ٱلرَّسُولُ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِلَىٰٓ أَهۡلِيهِمۡ أَبَدٗا ﴿ "bahwa Rasul dan orang-orang Mukmin sekali-kali tidak akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya." Artinya, mereka akan terbunuh. Dugaan ini tetap menghiasi hati mereka, hati mereka juga tenang dengan dugaan itu hingga menguat. Hal itu disebab-kan oleh dua hal: Pertama, karena mereka adalah ﴾ قَوۡمَۢا بُورٗا ﴿ "kaum yang binasa," artinya kaum yang celaka, yang tidak ada kebaikannya. Andai saja pada diri mereka terdapat kebaikan, tentu penyakit ini tidak ter-dapat dalam hati mereka. Kedua, lemahnya keimanan serta keyakinan mereka terhadap janji Allah سبحانه وتعالى serta tidak menolong agamaNya dan menjunjung kalimatNya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَن لَّمۡ يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ﴿ "Dan barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah dan RasulNya," artinya, maka ia adalah orang kafir yang berhak menerima azab. ﴾ فَإِنَّآ أَعۡتَدۡنَا لِلۡكَٰفِرِينَ سَعِيرٗا ﴿ "Maka sesungguhnya Kami menyediakan untuk orang-orang yang kafir neraka yang bernyala-nyala."
Ayah: 14 #
{وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (14)}
"Dan hanya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia memberi ampun kepada siapa yang dikehendakiNya dan meng-azab siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Fath: 14).
#
{14} أي: هو تعالى المنفردُ بملك السماواتِ والأرضِ، يتصرَّف فيهما بما يشاء من الأحكام القدريَّة والأحكام الشرعيَّة والأحكام الجزائيَّة، ولهذا ذكر حكم الجزاء المرتَّب على الأحكام الشرعيَّة، فقال: {يَغْفِرُ لِمَن يشاءُ}: وهو مَنْ قام بما أمره الله به، {ويعذِّبُ مَن يشاءُ}: ممَّن تهاونَ بأمرِ الله، {وكان الله غفوراً رحيماً}؛ أي: وصفه اللازم الذي لا ينفكُّ عنه المغفرةُ والرحمةُ، فلا يزال في جميع الأوقات يغفِرُ للمذنبين، ويتجاوزُ عن الخطَّائين، ويتقبَّل توبة التائبين، ويُنزِلُ خيرَه المدرار آناء الليل والنهار.
(14) Artinya, hanya Allah سبحانه وتعالى semata Pemilik kerajaan langit dan bumi. Semua hukum takdir, syariat, dan balasan diberlakukan Allah سبحانه وتعالى kepada langit dan bumi sesuai kehendakNya, karena itulah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan hukum balasan sebagai akibat dari hukum syariat seraya berfirman, ﴾ يَغۡفِرُ لِمَن يَشَآءُ ﴿ "Dia memberi ampun kepada siapa yang dikehendakiNya," bagi orang yang melaksanakan perintah Allah سبحانه وتعالى,,, ﴾ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَآءُۚ ﴿ "dan mengazab siapa yang dikehendakiNya," bagi orang yang meremehkan perintah Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," artinya, itulah sifat yang melekat pada Allah سبحانه وتعالى, mem-berikan ampunan dan rahmat dan tidak pernah terlepas dariNya. Allah سبحانه وتعالى senantiasa memberikan ampunan bagi para pendosa kapan pun juga, memaafkan mereka yang banyak memiliki kesalahan, menerima taubat orang-orang yang kembali padaNya, serta me-nurunkan kebaikanNya di malam dan di siang hari.
Ayah: 15 #
{سَيَقُولُ الْمُخَلَّفُونَ إِذَا انْطَلَقْتُمْ إِلَى مَغَانِمَ لِتَأْخُذُوهَا ذَرُونَا نَتَّبِعْكُمْ يُرِيدُونَ أَنْ يُبَدِّلُوا كَلَامَ اللَّهِ قُلْ لَنْ تَتَّبِعُونَا كَذَلِكُمْ قَالَ اللَّهُ مِنْ قَبْلُ فَسَيَقُولُونَ بَلْ تَحْسُدُونَنَا بَلْ كَانُوا لَا يَفْقَهُونَ إِلَّا قَلِيلًا (15)}
"Orang-orang Badui yang tertinggal (tidak ikut berperang) itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk mengambil ba-rang rampasan, 'Biarkanlah kami, niscaya kami mengikuti kamu,' mereka hendak merubah janji Allah. Katakanlah, 'Janganlah kalian mengikuti kami.' Seperti itulah yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى sebe-lumnya, maka mereka akan berkata, 'Sebenarnya kalian iri pada kami,' tetapi mereka itu tidak mengerti kecuali hanya sedikit." (Al-Fath: 15).
#
{15} لما ذكر تعالى المخلَّفين وذمَّهم؛ ذكر أنَّ من عقوبتهم الدنيويَّة أنَّ الرسول - صلى الله عليه وسلم - وأصحابه إذا انطلقوا إلى غنائم لا قتال فيها ليأخذوها؛ طلبوا منهم الصحبةَ والمشاركةَ، ويقولون: {ذَرونا نَتَّبِعْكم يريدونَ}: بذلك {أن يبدِّلوا كلامَ الله}؛ حيث حَكَمَ بعقوبتهم واختصاصِ الصحابةِ المؤمنين بتلك الغنائم شرعاً وقدراً، {قل}: لهم: {لن تَتَّبِعونا كذلِكُم قال اللهُ مِن قبلُ}: إنَّكم محرومون منها بما جنيتم على أنفسكم وبما تركتم القتال أول مرة؛ {فسيقولون}: مجيبين لهذا الكلام الذي مُنِعوا به عن الخروج: {بل تحسُدوننا}: على الغنائم! هذا منتهى علمهم في هذا الموضع، ولو فَهموا رُشدَهم؛ لعلموا أنَّ حرمانهم بسبب عصيانهم، وأنَّ المعاصي لها عقوباتٌ دنيويَّةٌ ودينيَّةٌ، ولهذا قال: {بل كانوا لا يفقهونَ إلاَّ قليلاً}.
(15) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan orang-orang yang tidak pergi berjihad serta mencela mereka, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menye-butkan sebagian hukuman duniawi untuk mereka yaitu bahwa Rasulullah a dan para sabahatnya ketika mendapatkan berbagai harta rampasan perang tanpa peperangan, mereka menginginkan agar disertakan, mereka berkata, ﴾ ذَرُونَا نَتَّبِعۡكُمۡۖ يُرِيدُونَ ﴿ "Biarkanlah kami, niscaya kami mengikuti kamu," mereka hendak (ingin) dengan cara itu ﴾ أَن يُبَدِّلُواْ كَلَٰمَ ٱللَّهِۚ ﴿ "merubah janji Allah." karena telah memu-tuskan hukuman bagi mereka dan Allah telah mengkhususkan harta rampasan perang hanya untuk para sahabat yang beriman menurut ketentuan syariat dan takdir. ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah" kepada mereka ﴾ لَّن تَتَّبِعُونَا كَذَٰلِكُمۡ قَالَ ٱللَّهُ مِن قَبۡلُۖ ﴿ "Janganlah kalian mengikuti kami.' Seperti itulah yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى sebelumnya." Sesungguhnya kalian terhalang untuk menda-patkan harta rampasan perang karena perbuatan dosa yang kalian lakukan terhadap diri kalian dan karena kalian tidak ikut pergi berperang pada mulanya. ﴾ فَسَيَقُولُونَ ﴿ "Maka mereka akan berkata," seraya menjawab pernyataan yang melarang mereka untuk ikut berperang tersebut, ﴾ بَلۡ تَحۡسُدُونَنَاۚ ﴿ "Sebenarnya kalian iri pada kami," terhadap harta rampasan perang, dan inilah puncak pengetahuan mereka tentang berperang. Andai mereka mengerti dan mema-hami, tentu mereka tahu bahwa penyebab yang membuat mereka terhalang untuk mendapatkan harta rampasan perang adalah karena kemaksiatan yang mereka lakukan. Orang-orang yang melakukan kemaksiatan berhak mendapatkan hukuman dunia dan akhirat. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ بَلۡ كَانُواْ لَا يَفۡقَهُونَ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "Tetapi mereka itu tidak mengerti kecuali hanya sendikit."
Ayah: 16 - 17 #
{قُلْ لِلْمُخَلَّفِينَ مِنَ الْأَعْرَابِ سَتُدْعَوْنَ إِلَى قَوْمٍ أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ تُقَاتِلُونَهُمْ أَوْ يُسْلِمُونَ فَإِنْ تُطِيعُوا يُؤْتِكُمُ اللَّهُ أَجْرًا حَسَنًا وَإِنْ تَتَوَلَّوْا كَمَا تَوَلَّيْتُمْ مِنْ قَبْلُ يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (16) لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَى حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَنْ يَتَوَلَّ يُعَذِّبْهُ عَذَابًا أَلِيمًا (17)}.
"Katakanlah kepada orang-orang Badui yang tertinggal, 'Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar, kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam). Maka jika kamu patuhi (ajakan itu), niscaya Allah akan memberikan kepadamu pahala yang baik dan jika kamu berpaling sebagaimana kamu telah berpaling sebelum-nya, niscaya Dia akan mengazab kamu dengan azab yang pedih.' Tiada dosa atas orang-orang yang buta dan atas orang-orang yang pincang dan atas orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang). Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barangsiapa yang berpaling, niscaya Dia akan mengazabnya dengan azab yang pedih." (Al-Fath: 16-17).
#
{16} لما ذكر تعالى أنَّ المخلَّفين من الأعراب يتخلَّفون عن الجهاد في سبيله، ويعتذِرون بغير عذرٍ، وأنَّهم يطلبون الخروج معهم إذا لم يكن شوكةٌ ولا قتالٌ، بل لمجرَّد الغنيمة؛ قال تعالى ممتحناً لهم: {قل للمخلَّفين من الأعراب سَتُدْعَوْنَ إلى قوم أولي بأس شديدٍ}؛ أي: سيدعوكم الرسولُ ومَنْ ناب منابَه من الخلفاء الراشدين والأئمة، وهؤلاء القوم فارسٌ والرومُ ومَنْ نحا نحوَهم وأشبههم، {تقاتِلونَهم أو يُسْلِمونَ}؛ أي: إمَّا هذا وإمَّا هذا، وهذا هو الأمر الواقع؛ فإنَّهم في حال قتالهم ومقاتلتهم لأولئك الأقوام إذا كانت شدتُهم وبأسُهم معهم؛ فإنَّهم في تلك الحال لا يقبلون أن يبذُلوا الجزيةَ، بل إمَّا أنْ يدخُلوا في الإسلام، وإمَّا أن يُقاتِلوا على ما هم عليه، فلما أثخنهم المسلمونَ وضَعُفوا وذلُّوا؛ ذهب بأسُهم، فصاروا إمَّا أنْ يسلِموا وإمَّا أن يبذُلوا الجزية، {فإن تُطيعوا}: الداعي لكم إلى قتال هؤلاء، {يؤتِكُمُ الله أجراً حسناً}: وهو الأجر الذي رتَّبه الله ورسولُهُ على الجهادِ في سبيل الله، {وإن تَتَوَلَّوْا كما تولَّيْتُم من قبلُ}: عن قتال مَنْ دعاكم الرسولُ إلى قتالِهِ، {يعذِّبْكم عذاباً أليماً}. ودلَّت هذه الآية على فضيلة الخلفاء الرَّاشدين الداعين لجهادِ أهل البأس من الناس، وأنَّه تجب طاعتُهم في ذلك.
(16) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentang orang-orang dari kalangan badui yang tidak turut pergi berperang di jalan Allah سبحانه وتعالى, mereka mengutarakan alasan yang tidak benar dan mereka me-minta untuk turut serta berperang jika tidak disertai persenjataan dan peperangan tapi hanya untuk mendapatkan harta rampasan perang saja, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman mencela mereka, ﴾ قُل لِّلۡمُخَلَّفِينَ مِنَ ٱلۡأَعۡرَابِ سَتُدۡعَوۡنَ إِلَىٰ قَوۡمٍ أُوْلِي بَأۡسٖ شَدِيدٖ ﴿ "Katakanlah kepada orang-orang Badui yang tertinggal, 'Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar'." Artinya, Rasulullah a dan para penggantinya dari kalangan Khulafa` Rasyidin serta para pemimpin akan meng-ajak kalian, dan mereka itu adalah pasukan Persia dan Romawi serta orang-orang semacam mereka, ﴾ تُقَٰتِلُونَهُمۡ أَوۡ يُسۡلِمُونَۖ ﴿ "kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam)," artinya, kemungkinan yang ini atau yang itu. Dan inilah realitanya, jika mereka pada saat memerangi para musuh dan dapat dikalahkan, maka kaum Muslimin tidak boleh menerima jizyah dari mereka, tapi alternatifnya adalah mereka para musuh itu masuk Islam atau dibunuh karena kekufuran mereka. Setelah kaum Muslimin ber-hasil mengalahkan mereka, mereka pun tunduk dan kehilangan kekuatan sehingga mereka harus masuk Islam atau membayar jizyah. ﴾ فَإِن تُطِيعُواْ ﴿ "Maka jika kamu patuhi (ajakan itu)," yakni, ajakan orang yang menyeru kalian memerangi musuh, ﴾ يُؤۡتِكُمُ ٱللَّهُ أَجۡرًا حَسَنٗاۖ ﴿ "niscaya Allah akan memberikan kepadamu pahala yang baik," yaitu balasan yang diberikan Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya karena berjihad di jalan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَإِن تَتَوَلَّوۡاْ كَمَا تَوَلَّيۡتُم مِّن قَبۡلُ ﴿ "Dan jika kamu berpaling seba-gaimana kamu telah berpaling sebelumnya," untuk memerangi kaum yang diserukan oleh Rasulullah a agar diperangi, ﴾ يُعَذِّبۡكُمۡ عَذَابًا أَلِيمٗا ﴿ "niscaya Dia akan mengazab kamu dengan azab yang pedih." Ayat ini menunjukkan keutamaan para Khulafa` Rasyidin yang menyerukan untuk memerangi kaum yang memiliki kekuatan besar, di mana seruan itu wajib untuk ditaati.
#
{17} ثم ذكر الأعذار التي يُعْذَرُ بها العبد عن الخروج إلى الجهاد، فقال: {ليس على الأعمى حَرَجٌ ولا على الأعرج حَرَجٌ ولا على المريض حَرَجٌ}؛ أي: في التخلُّف عن الجهاد لعذرِهم المانع، {ومن يطع اللهَ ورسولَه}: في امتثال أمرهما واجتناب نهيهما، {يُدْخِلْه جناتٍ تجري من تحتها الأنهار}: فيها ما تشتهيه الأنفس، وتلذُّ الأعينُ، {ومن يَتَوَلَّ}: عن طاعة الله ورسوله، {يعذِّبْه عذاباً أليماً}: فالسعادةُ كلُّها في طاعة الله، والشقاوة في معصيته ومخالفته.
(17) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan berbagai macam udzur yang diperkenankan bagi seorang hamba untuk tidak turut berjihad, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَّيۡسَ عَلَى ٱلۡأَعۡمَىٰ حَرَجٞ وَلَا عَلَى ٱلۡأَعۡرَجِ حَرَجٞ وَلَا عَلَى ٱلۡمَرِيضِ حَرَجٞۗ ﴿ "Tiada dosa atas orang-orang yang buta dan atas orang-orang yang pincang dan atas orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang)." Yakni, untuk tidak turut berjihad karena adanya udzur yang menghalangi mereka. ﴾ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ ﴿ "Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya," dalam melaksanakan perintahNya dan menjauhi lara-nganNya, ﴾ يُدۡخِلۡهُ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ ﴿ "niscaya Allah akan memasukkan-nya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai," di dalam surga terdapat berbagai hal yang diinginkan jiwa dan dipandang nikmat oleh mata. ﴾ وَمَن يَتَوَلَّ ﴿ "Dan barangsiapa yang berpaling," dan tidak menaati Allah سبحانه وتعالى serta RasulNya, ﴾ يُعَذِّبۡهُ عَذَابًا أَلِيمٗا ﴿ "niscaya Dia akan mengazabnya dengan azab yang pedih." Kebahagiaan seluruhnya terletak pada menaati perintah Allah سبحانه وتعالى dan kesengsaraan terletak pada kemaksiatan serta menentang perintah Allah سبحانه وتعالى.
Ayah: 18 - 21 #
{لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا (18) وَمَغَانِمَ كَثِيرَةً يَأْخُذُونَهَا وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا (19) وَعَدَكُمُ اللَّهُ مَغَانِمَ كَثِيرَةً تَأْخُذُونَهَا فَعَجَّلَ لَكُمْ هَذِهِ وَكَفَّ أَيْدِيَ النَّاسِ عَنْكُمْ وَلِتَكُونَ آيَةً لِلْمُؤْمِنِينَ وَيَهْدِيَكُمْ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (20) وَأُخْرَى لَمْ تَقْدِرُوا عَلَيْهَا قَدْ أَحَاطَ اللَّهُ بِهَا وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا (21)}
"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang Mukmin ketika mereka berjanji setia (berbai'at) kepadamu di bawah pohon itu, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan mem-beri balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (wak-tunya). Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Allah men-janjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak dapat kamu ambil, maka disegerakanNya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan)mu (agar kamu mensyukuriNya) dan agar itu menjadi bukti bagi orang-orang Mukmin dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus. Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukanNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (Al-Fath: 18-21).
#
{18 ـ 19} يخبر تعالى بفضله ورحمته برضاه عن المؤمنين إذ يبايعون الرسول - صلى الله عليه وسلم - تلك المبايعة التي بيَّضت وجوههم واكتسبوا بها سعادة الدُّنيا والآخرة. وكان سبب هذه البيعة ـ التي يقال لها: بيعةُ الرضوان؛ لرضا الله عن المؤمنين فيها. ويقال لها: بيعةُ أهل الشجرة ـ أنَّ رسول الله - صلى الله عليه وسلم - لما دارَ الكلامُ بينه وبين المشركين يوم الحديبيةِ في شأن مجيئه، وأنَّه لم يجئ لقتال أحدٍ، وإنَّما جاء زائراً هذا البيت معظِّماً له، فبعث رسولُ الله - صلى الله عليه وسلم - عثمان بن عفان لمكَّة في ذلك، فجاء خبر غير صادق أنَّ عثمان قتله المشركون، فجمع رسولُ الله - صلى الله عليه وسلم - مَنْ معه مِنَ المؤمنين، وكانوا نحواً من ألف وخمسمائة، فبايعوه تحت شجرةٍ على قتال المشركين وأنْ لا يفرُّوا حتى يموتوا، فأخبر تعالى أنَّه رضيَ عن المؤمنين في تلك الحال التي هي من أكبر الطاعات وأجلِّ القُرُبات. {فعلم ما في قُلوبِهم}: من الإيمان، {فأنزلَ السكينةَ عليهم}: شكراً لهم على ما في قلوبهم، زادهم هدىً، وعلم ما في قلوبهم من الجزع من تلك الشروط التي شَرَطَها المشركون على رسولِهِ، فأنزل عليهم السكينة تثبِّتُهم، وتطمئنُّ بها قلوبهم، {وأثابهم فتحاً قريباً}: وهو فتح خيبر، لم يحضُرْه سوى أهل الحديبية، فاختصُّوا بخيبر وغنائمها جزاءً لهم وشكراً على ما فعلوه من طاعة الله تعالى والقيام بمرضاته، {ومغانم كثيرةً يأخُذونها وكانَ الله عزيزاً حكيماً}؛ أي: له العزَّة والقدرة، التي قهر بها الأشياء؛ فلو شاء؛ لانتصر من الكفَّار في كلِّ وقعة تكون بينهم وبين المؤمنين، ولكنَّه حكيمٌ يَبْتلي بعضَهم ببعض ويمتحنُ المؤمنَ بالكافر.
(18-19) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang karunia, rahmat, serta keridhaanNya terhadap kaum Mukminin yang berbai'at setia kepada Rasulullah a dalam peristiwa pembai'atan yang membuat wajah mereka putih bersinar, dan dengan bai'at itu pun mereka mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Penyebab bai'at ini, yaitu yang dikenal dengan Bai'at ar-Ridhwan adalah karena Allah سبحانه وتعالى ridha terhadap kaum Mukminin yang melakukan bai'at setia itu. Disebut juga bai'at orang-orang yang berada di sekitar pohon, yaitu pada saat pembicaraan antara Rasulullah a dan kaum musy-rikin berlangsung dalam perjanjian Hudaibiyah mengenai sebab kedatangan Rasulullah a ke Makkah, Rasulullah a tidak datang untuk memerangi seorang pun, Rasulullah a datang hanya untuk mengunjungi Baitullah serta untuk mengagungkannya. Kemudian Rasulullah a mengirim Utsman bin Affan ke Makkah untuk meng-utarakan tujuan kedatangan Rasulullah a. Kemudian tersiar berita bohong bahwa Utsman dibunuh. Kemudian Rasulullah a me-ngumpulkan kaum Mukminin yang turut bersama Rasulullah a yang jumlahnya sekitar seribu lima ratus orang, dan mereka pun berbai'at setia kepada Rasulullah a di bawah sebatang pohon untuk memerangi kaum musyrikin dan tidak akan lari hingga me-reka gugur sekalipun. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa Dia ridha terhadap kaum Mukminin pada saat itu yang mana bai'at itu merupakan salah satu ketaatan terbesar serta ibadah paling luhur. ﴾ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمۡ ﴿ "Maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka," yakni, Allah سبحانه وتعالى mengetahui keimanan mereka,﴾ فَأَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "lalu menurunkan ketenangan atas mereka," sebagai rasa terima kasih Allah سبحانه وتعالى terhadap keimanan yang terdapat dalam diri mereka, Allah سبحانه وتعالى menambahkan petunjuk pada mereka dan Allah سبحانه وتعالى juga mengetahui kesedihan dalam benak mereka karena isi-isi perjanjian yang disyaratkan oleh kaum musyrikin terhadap Rasu-lullah a, kemudian Allah سبحانه وتعالى menurunkan ketenangan yang mem-buat hati mereka kokoh dan damai, ﴾ وَأَثَٰبَهُمۡ فَتۡحٗا قَرِيبٗا ﴿ "dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)." Yaitu penaklukan Khaibar yang hanya diikuti oleh orang-orang yang ikut serta dalam peristiwa Hudaibiyah, sehingga harta ram-pasannya khusus bagi mereka sebagai balasan untuk mereka dan sebagai ucapan terima kasih atas ketaatan terhadap Allah سبحانه وتعالى serta menunaikan amalan yang membuatNya ridha yang dilakukan oleh kaum Mukminin, ﴾ وَمَغَانِمَ كَثِيرَةٗ يَأۡخُذُونَهَاۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمٗا ﴿ "serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan Allah Mahaper-kasa lagi Mahabijaksana." Allah سبحانه وتعالى memiliki keperkasaan dan kekua-saan yang memaksa segala sesuatu. Andai Allah سبحانه وتعالى berkehendak, tentu kaum Muslimin akan dapat mengalahkan kaum kafir dalam setiap peperangan, namun Allah سبحانه وتعالى Mahabijaksana, yang menguji sebagian mereka dengan yang lain; Allah سبحانه وتعالى menguji orang-orang Mukmin dengan kemenangan orang kafir.
#
{20} {وعدكم اللهُ مغانمَ كثيرةً تأخُذونها}: وهذا يشمل كلَّ غنيمة غَنَّمها المسلمين إلى يوم القيامة، {فعجَّلَ لكم هذهِ}؛ أي: غنيمة خيبر؛ أي: فلا تحسَبوها وحدَها، بل ثمَّ شيءٌ كثيرٌ من الغنائم سيتبعها، {و} احمدوا الله إذْ {كفَّ أيدِيَ الناسِ}: القادرين على قتالكم الحريصين عليه {عنكم}: فهي نعمةٌ وتخفيفٌ عنكم، {ولتكونَ}: هذه الغنيمة {آيةً للمؤمنينَ}: يستدلُّون بها على خبر الله الصادق ووعده الحقِّ وثوابه للمؤمنين، وأنَّ الذي قدَّرها سيقدِّر غيرها، {ويهدِيَكم}: يما يُقَيِّضُ لكم من الأسباب {صراطاً مستقيماً}: من العلم والإيمان والعمل.
(20) ﴾ وَعَدَكُمُ ٱللَّهُ مَغَانِمَ كَثِيرَةٗ تَأۡخُذُونَهَا ﴿ "Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil." Harta ram-pasan perang tersebut mencakup semua harta rampasan perang yang didapatkan oleh seluruh kaum Muslimin hingga Kiamat, ﴾ فَعَجَّلَ لَكُمۡ هَٰذِهِۦ ﴿ "maka disegerakanNya harta rampasan ini," yakni, harta rampasan Perang Khaibar. Janganlah kalian mengira harta ram-pasan itu hanya satu-satunya harta rampasan perang, namun masih terdapat berbagai harta rampasan perang lain setelahnya. ﴾ و َ ﴿ "Dan," pujilah Allah سبحانه وتعالى pada saat, ﴾ كَفَّ أَيۡدِيَ ٱلنَّاسِ ﴿ "Dia menahan tangan manusia," yang mampu memerangi kalian dan berkeinginan untuk memerangi kalian, ﴾ عَنكُمۡ ﴿ "dari (membinasakan)mu." Ini meru-pakan nikmat dan keringanan yang diberikan pada kalian, ﴾ وَلِتَكُونَ ﴿ "dan agar itu," yakni harta rampasan perang ﴾ ءَايَةٗ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "menjadi bukti bagi orang-orang Mukmin," yang dengan bukti itu orang-orang Mukmin dapat mengetahui benarnya berita Allah سبحانه وتعالى dan janjiNya yang haq, serta balasanNya yang akan diberikan kepada orang-orang yang beriman. Dan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى yang menakdirkan hal itu juga akan menakdirkan yang lainnya, ﴾ وَيَهۡدِيَكُمۡ ﴿ "dan agar Dia menunjuki kamu," dengan berbagai sebab yang ditetapkan pada kalian ﴾ صِرَٰطٗا مُّسۡتَقِيمٗا ﴿ "kepada jalan yang lurus," berupa ilmu, iman, dan amal.
#
{21} {وأخرى}؛ أي: وعدكم أيضاً غنيمة أخرى، {لم تقدِروا عليها}: وقت هذا الخطاب، {قد أحاطَ اللهُ بها}؛ أي: هو قادر عليها وتحت تدبيره وملكه، وقد وعَدَكُموها؛ فلا بدَّ من وقوع ما وَعَدَ به؛ لكمال اقتدار الله تعالى، ولهذا قال: {وكان الله على كلِّ شيءٍ قديراً}.
(21) ﴾ وَأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-ke-menangan) yang lain," artinya, Allah سبحانه وتعالى menjanjikan harta rampasan lain, ﴾ لَمۡ تَقۡدِرُواْ عَلَيۡهَا ﴿ "(atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat mengua-sainya," di waktu ayat ini turun, ﴾ قَدۡ أَحَاطَ ٱللَّهُ بِهَاۚ ﴿ "yang sungguh Allah telah menentukanNya." Artinya, Allah سبحانه وتعالى Mahakuasa atas hal itu dan hal itu berada di bawah pengaturan serta kekuasaanNya yang dijanjikan kepada kalian, karena itu janji Allah سبحانه وتعالى pasti akan terlak-sana karena Kuasa Allah سبحانه وتعالى yang Mahasempurna. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٗا ﴿ "Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu."
Ayah: 22 - 23 #
{وَلَوْ قَاتَلَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوَلَّوُا الْأَدْبَارَ ثُمَّ لَا يَجِدُونَ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا (22) سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا (23)}.
"Dan sekiranya orang-orang kafir itu memerangi kamu, pas-tilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah) kemudian mereka tiada memperoleh pelindung dan tidak (pula) penolong. Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu." (Al-Fath: 22-23).
#
{22} هذه بشارةٌ من الله لعباده المؤمنين بنصرهم على أعدائهم الكافرين، وأنَّهم لو قابَلوهم وقاتلوهم؛ {لَوَلَّوا الأدبار ثمَّ لا يجدونَ وليًّا}: يتولَّى أمرَهم، {ولا نصيراً}: ينصُرُهم ويعينُهم على قتالكم، بل هم مخذولونَ مغلوبونَ.
(22) Ini merupakan berita gembira dari Allah سبحانه وتعالى untuk hamba-hambaNya yang beriman, bahwasanya Allah سبحانه وتعالى akan mem-berikan kemenangan untuk orang-orang yang beriman terhadap para musuhnya yang kafir, dan bahwasanya jika orang-orang yang beriman menghadapi dan memerangi orang-orang kafir, ﴾ لَوَلَّوُاْ ٱلۡأَدۡبَٰرَ ثُمَّ لَا يَجِدُونَ وَلِيّٗا ﴿ "pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah) kemudian mereka tiada memperoleh pelindung," yang dapat menjaga mereka, ﴾ وَلَا نَصِيرٗا ﴿ "dan tidak (pula) penolong," yang dapat menolong dan membantu mereka dari serangan orang-orang Mukmin; me-reka justru akan direndahkan dan dikalahkan.
#
{23} وهذه سنةُ اللهِ في الأمم السابقة أنَّ جندَ الله هم الغالبونَ، {ولن تَجِدَ لِسُنَّة الله تبديلاً}.
(23) Hal itu merupakan sunnatullah terhadap berbagai umat sebelumnya, yaitu bahwa para tentara Allah سبحانه وتعالى pasti menang, ﴾ وَلَن تَجِدَ لِسُنَّةِ ٱللَّهِ تَبۡدِيلٗا ﴿ "dan kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu."
Ayah: 24 - 25 #
{وَهُوَ الَّذِي كَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ عَنْهُمْ بِبَطْنِ مَكَّةَ مِنْ بَعْدِ أَنْ أَظْفَرَكُمْ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا (24) هُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَالْهَدْيَ مَعْكُوفًا أَنْ يَبْلُغَ مَحِلَّهُ وَلَوْلَا رِجَالٌ مُؤْمِنُونَ وَنِسَاءٌ مُؤْمِنَاتٌ لَمْ تَعْلَمُوهُمْ أَنْ تَطَئُوهُمْ فَتُصِيبَكُمْ مِنْهُمْ مَعَرَّةٌ بِغَيْرِ عِلْمٍ لِيُدْخِلَ اللَّهُ فِي رَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ لَوْ تَزَيَّلُوا لَعَذَّبْنَا الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (25)}
"Dan Dia-lah yang menahan tangan mereka dari (membina-sakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Makkah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka, dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Merekalah orang-orang yang kafir yang menghalangi kamu dari (masuk) Masjidil Haram dan menghalangi hewan kurban sampai ke tempat (penyembelihan)nya. Dan kalau tidaklah karena laki-laki yang Mukmin dan perempuan-perempuan yang Mukmin yang tiada kamu ketahui, bahwa kamu akan membunuh mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa pengetahuanmu (tentulah Allah tidak akan menahan tanganmu dari membinasa-kan mereka). Supaya Allah memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmatNya. Sekiranya mereka tidak bercampur baur, tentulah Kami akan mengazab orang-orang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih." (Al-Fath: 24-25).
#
{24} يقول تعالى ممتنًّا على عباده بالعافية من شرِّ الكفار ومن قتالهم، فقال: {وهو الذي كَفَّ أيْدِيَهم}؛ أي: أهل مكة {عنكم وأيدِيَكُم عنهم ببطنِ مكَّة من بعدِ أن أظْفَرَكُم عليهم}؛ أي: من بعد ما قدرتُم عليهم وصاروا تحت ولايتكم بلا عقدٍ ولا عهدٍ، وهم نحو ثمانين رجلاً، انحدروا على المسلمين ليصيبوا منهم غِرَّةً، فوجدوا المسلمين منتبهين، فأمسكوهم، فتركوهم ولم يقتُلوهم؛ رحمةً من الله بالمؤمنين إذْ لم يقتُلوهم، {وكان الله بما تعملون بصيراً}: فيجازي كلَّ عامل بعملِهِ، ويدبِّركم أيها المؤمنون بتدبيره الحسن.
(24) Allah سبحانه وتعالى berfirman memberikan keselamatan bagi hamba-hambaNya dari keburukan kaum kafir serta peperangan mereka, di mana Dia berfirman, ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي كَفَّ أَيۡدِيَهُمۡ ﴿ "Dan Dia-lah yang menahan tangan mereka," yaitu para penduduk Makkah ﴾ عَنكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ عَنۡهُم بِبَطۡنِ مَكَّةَ مِنۢ بَعۡدِ أَنۡ أَظۡفَرَكُمۡ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Makkah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka," yakni, setelah kalian menga-lahkan mereka sehingga mereka berada dalam kekuasaan kalian meski tanpa perjanjian, mereka berjumlah sekitar delapan puluh orang, mereka berusaha menyusup ke dalam kaum Muslimin agar dapat mengalahkan mereka kala mereka lengah, namun mereka melihat kaum Muslimin senantiasa waspada hingga mereka pun tertangkap lalu dilepaskan dan tidak dibunuh, semua itu adalah sebagai rahmat Allah سبحانه وتعالى terhadap kaum Mukminin karena tidak membunuh para musuh itu. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرًا ﴿ "Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." Allah سبحانه وتعالى akan membalas semua orang berdasarkan amalnya dan Allah سبحانه وتعالى akan mengatur kalian orang-orang yang beriman secara baik.
#
{25} ثم ذكر تعالى الأمور المهيِّجة على قتال المشركين، وهي كفرُهم بالله ورسولِهِ، وصدُّهم رسولَ الله ومَنْ معه من المؤمنين أنْ يأتوا للبيت الحرام زائرين معظِّمين له بالحجِّ والعمرة، وهم الذين أيضاً صدُّوا {الهديَ معكوفاً}؛ أي: محبوساً، {أن يبلغَ مَحِلَّه}: وهو مَحِلُّ ذبحِهِ في مكة ، حيث تذبح هدايا العمرة، فمنعوه من الوصول إليه ظلماً وعدواناً. وكلُّ هذه أمورٌ موجبةٌ وداعيةٌ إلى قتالهم، ولكن ثمَّ مانعٌ، وهو وجودُ رجال ونساء من أهل الإيمان بين أظهر المشركين، وليسوا بمتميِّزين بمحلةٍ أو مكانٍ يمكن أن لا ينالَهم أذى؛ فلولا هؤلاء الرجال المؤمنون والنساء المؤمنات الذين لا يعلمهم المسلمون {أن تطؤوهم}؛ أي: خشية أن تطؤوهم، {فتصيبَكم منهم مَعَرَّةٌ بغير علم}: والمعرَّةُ ما يدخل تحت قتالهم من نيلِهِم بالأذى والمكروه، وفائدةٌ أخريَّةٌ، وهو أنه لِيُدْخِلَ {في رحمته مَن يشاءُ}: فَيَمُنَّ عليهم بالإيمان بعد الكفر، وبالهدى بعد الضلال، فيمنعكم من قتالهم لهذا السبب، {لو تَزَيَّلوا}؛ أي: لو زالوا من بين أظهرهم، {لعذَّبْنا الذين كَفَروا منهم عذاباً أليماً}: بأن نبيحَ لكم قتالَهم، ونأذنَ فيه، وننصرَكم عليهم.
(25) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan berbagai faktor pendorong untuk memerangi kaum kafir, yaitu kekufuran mereka terhadap Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, mereka menghalangi Rasulullah a dan kaum Mukminin yang turut serta untuk mengunjungi Baitullah seraya mengagungkannya dengan berhaji dan umrah, mereka juga adalah orang-orang yang m e n g h a l a n g i ﴾ وَٱلۡهَدۡيَ مَعۡكُوفًا أَن يَبۡلُغَ مَحِلَّهُۥۚ ﴿ "hewan kurban sampai ke tempat (penyembelihan)nya," yaitu tertahan untuk sampai ke tempat penyembelihannya yang berada di Makkah, di tempat itulah semua hewan kurban umrah disem-belih, tapi orang-orang musyrik menghalanginya secara zhalim dan menentang. Semua hal inilah yang mengharuskan dan mendorong untuk memerangi kaum musyrikin. Hanya saja terdapat satu peng-halang untuk memerangi mereka, yaitu keberadaan orang-orang dari kalangan lelaki dan perempuan yang beriman yang berada di tengah kaum musyrikin. Orang-orang seperti ini tentu tidak bisa dibedakan pada saat diserang, andai saja bukan karena kalangan lelaki dan wanita yang beriman yang tidak diketahui oleh orang-orang Mukmin itu ﴾ أَن تَطَـُٔوهُمۡ ﴿ "bahwa kamu akan membunuh mereka," yakni khawatir jika kalian membunuh mereka,﴾ فَتُصِيبَكُم مِّنۡهُم مَّعَرَّةُۢ بِغَيۡرِ عِلۡمٖۖ ﴿ "yang menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa pengetahuan-mu," (tentulah Allah tidak akan menahan tanganmu dari membina-sakan mereka). Yang dimaksud dengan kesusahan dalam ayat ini adalah memerangi dan menyerang orang-orang yang beriman yang berbaur dengan orang-orang musyrik Makkah. Terdapat faidah lain dalam hal ini yaitu ﴾ لِّيُدۡخِلَ ٱللَّهُ فِي رَحۡمَتِهِۦ مَن يَشَآءُۚ ﴿ "supaya Allah mema-sukkan siapa yang dikehendakiNya," di mana Allah سبحانه وتعالى memberi karunia berupa keimanan terhadap mereka setelah sebelumnya kufur, Allah سبحانه وتعالى memberikan petunjuk kepada mereka setelah sebelumnya berada dalam kesesatan, dan karena faktor inilah kalian dilarang untuk menyerang mereka. ﴾ لَوۡ تَزَيَّلُواْ ﴿ "Sekiranya mereka tidak ber-campur baur," andai mereka tidak berada di tengah-tengah kaum musyrikin, ﴾ لَعَذَّبۡنَا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡهُمۡ عَذَابًا أَلِيمًا ﴿ "tentulah Kami akan mengazab orang-orang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih," dengan cara Kami memberi izin pada kalian orang-orang yang beriman untuk memerangi orang-orang kafir itu dan memberikan keme-nangan untuk kalian.
Ayah: 26 #
{إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَى وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (26)}
"Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurun-kan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang Mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan mereka lebih berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al-Fath: 26).
#
{26} يقول تعالى: {إذْ جعلَ الذين كفروا في قلوبِهِمْ الحميَّةَ حميَّةَ الجاهليَّةِ}: حيث أنفوا من كتابة «بسم الله الرحمن الرحيم»، وأنفوا من دخول رسول الله - صلى الله عليه وسلم - والمؤمنين إليهم في تلك السنة ؛ لئلاَّ يقولَ الناس: دَخَلوا مكَّة قاهرين لقريش! وهذه الأمور ونحوها من أمور الجاهلية لم تزلْ في قلوبِهِم حتَّى أوجبتْ لهم ما أوجبتْ من كثيرٍ من المعاصي، {فأنزل الله سكينَتَه على رسوله وعلى المؤمنين}: فلم يحمِلْهم الغضب على مقابلة المشركين بما قابلوهم به بل صبروا لحكم الله والتزموا الشروط التي فيها تعظيم حرمات الله، ولو كانت ما كانت، ولم يبالوا بقول القائلين ولا لوم اللائمين، {وألزَمَهم كلمةَ التَّقوى}، وهي لا إله إلاَّ الله وحقوقها، ألزمهم القيام بها، فالتزموها وقاموا بها، {وكانوا أحقَّ بها}: من غيرهم، {و} كانوا {أهلَها}: الذين استأهلوها؛ لما يعلمُ الله عندَهم وفي قلوبهم من الخير، ولهذا قال: {وكان الله بكلِّ شيءٍ عليماً}.
(26) Allah تعالى berfirman, ﴾ إِذۡ جَعَلَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلۡحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ ﴿ "Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka ke-sombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah," karena mereka menghapus tulisan "Bismillahirrahmanirrahim" serta melarang Rasulullah a dan orang-orang yang beriman untuk mendatangi Makkah pada tahun itu[91] agar orang-orang tidak mengatakan bahwa kaum Mus-limin berhasil masuk Makkah karena telah mengalahkan kaum Quraisy. Hal-hal semacam ini adalah termasuk kejahiliyahan yang tetap tertanam dalam benak mereka sehingga mendorong mereka melakukan berbagai kemaksiatan. ﴾ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang Mukmin," sehing-ga mereka tidak terpancing untuk menghadapi kaum musyrikin sebagaimana kaum musyrikin memperlakukan mereka dahulunya, tapi kaum Mukminin bersabar atas ketentuan Allah سبحانه وتعالى serta kon-sisten terhadap isi perjanjian yang berisi mengagungkan keharaman Allah سبحانه وتعالى meski apa pun yang terjadi, mereka tidak peduli terhadap perkataan dan celaan orang. ﴾ وَأَلۡزَمَهُمۡ كَلِمَةَ ٱلتَّقۡوَىٰ ﴿ "Dan Allah mewa-jibkan kepada mereka kalimat takwa," yaitu kalimat La ilaha illallah serta kewajiban-kewajiban yang dituntut oleh kalimat ini, mereka diharuskan menunaikannya. Dan mereka pun menunaikannya serta konsisten dalam menunaikannya. ﴾ وَكَانُوٓاْ أَحَقَّ بِهَا ﴿ "Dan mereka lebih berhak dengan kalimat takwa itu," daripada orang lain, ﴾ وَأَهۡلَهَاۚ ﴿ "dan patut memilikinya," yakni mereka adalah orang-orang yang berhak memilikinya karena Allah سبحانه وتعالى mengetahui kebaikan yang ada dalam hati mereka, dan karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٗا ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
Ayah: 27 - 28 #
{لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِنْ دُونِ ذَلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا (27) هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا (28)}
"Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada RasulNya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan menguris rambut kepala dan mencukurnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat." (Al-Fath: 27). "Dia-lah yang mengutus RasulNya dengan membawa petun-juk dan agama yang haq agar dimenangkanNya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi." (Al-Fath: 28).
#
{27} يقول تعالى: {لقد صدق اللهُ رسولَه الرُّؤيا بالحقِّ}: وذلك أنَّ رسول الله - صلى الله عليه وسلم - رأى في المدينة رؤيا أخبر بها أصحابه؛ أنَّهم سيدخلون مكَّة ويطوفون بالبيت، فلما جرى يوم الحديبية ما جرى، ورجعوا من غير دخول لمكَّة؛ كَثُرَ في ذلك الكلام منهم، حتى إنهم قالوا ذلك لرسول الله - صلى الله عليه وسلم -: ألم تُخْبِرْنا أنَّا سنأتي البيت ونطوف به؟! فقال: «أخبرتكم أنَّه العام؟!»، قالوا: لا، قال: «فإنَّكم ستأتونَه وتطوفونَ به». قال الله تعالى هنا: {لقد صَدَقَ الله رسولَه الرؤيا بالحقِّ}؛ أي: لا بدَّ من وقوعها وصِدْقها، ولا يقدُح في ذلك تأخُّر تأويلها، {لَتَدْخُلُنَّ المسجدَ الحرام إن شاء اللهُ آمنينَ محلِّقينَ رؤوسَكم ومقصِّرين}؛ أي: في هذه الحال المقتضية لتعظيم هذا البيت الحرام وأدائكم للنُّسك وتكميلِهِ بالحلق والتَّقصير وعدم الخوفِ. {فعلم}: من المصلحة والمنافع {ما لم تَعْلَموا فجَعَلَ من دونِ ذلك}: الدخول بتلك الصفة {فتحاً قريباً}.
(27) Allah تعالى berfirman, ﴾ لَّقَدۡ صَدَقَ ٱللَّهُ رَسُولَهُ ٱلرُّءۡيَا بِٱلۡحَقِّۖ ﴿ "Sesung-guhnya Allah akan membuktikan kepada RasulNya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya." Hal ini adalah karena sebelumnya Rasulullah a bermimpi ketika berada di Madinah kemudian di-beritahukan kepada para sahabatnya, bahwa mereka akan masuk Makkah dan berthawaf di Baitullah. Namun ketika terjadi peristiwa dalam perjanjian Hudaibiyah tersebut dan mereka kembali lagi ke Madinah tanpa bisa memasuki Makkah hingga mereka pun mena-nyakan hal itu kepada Rasulullah a, "Bukankah engkau pernah memberitahu kami bahwa kita akan mendatangi dan berthawaf di Baitullah?" Rasulullah a menjawab, "Apakah aku memberitahukan kepada kalian bahwa itu terjadi pada tahun ini?"[92] Para sahabat menjawab, "Tidak." Rasulullah a menjawab, "Sesungguhnya kalian pasti akan mendatangi dan berthawaf di Baitullah." Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَّقَدۡ صَدَقَ ٱللَّهُ رَسُولَهُ ٱلرُّءۡيَا بِٱلۡحَقِّۖ ﴿ "Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada RasulNya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya," yakni, pasti akan tejadi dan benar meski terlambatnya penjelasan hal itu tidak memburamkan hal itu, ﴾ لَتَدۡخُلُنَّ ٱلۡمَسۡجِدَ ٱلۡحَرَامَ إِن شَآءَ ٱللَّهُ ءَامِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمۡ وَمُقَصِّرِينَ ﴿ "(yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan menguris rambut kepala dan mencukur-nya," yakni, pada saat itu yang mengharuskan kalian untuk meng-agungkan baitul haram, menunaikan dan menyempurnakan ma-nasik dengan mencukur dan menggunting rambut tanpa disertai rasa takut. ﴾ فَعَلِمَ ﴿ "Maka Allah mengetahui" berbagai kepentingan dan manfaat, ﴾ مَا لَمۡ تَعۡلَمُواْ فَجَعَلَ مِن دُونِ ذَٰلِكَ ﴿ "apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu," yakni, masuk dengan keadaan seperti itu sebagai ﴾ فَتۡحٗا قَرِيبًا ﴿ "kemenangan yang dekat."
#
{28} ولما كانت هذه الواقعة مما تشوَّشت بها قلوبُ بعض المؤمنين، وخفيتْ عليهم حكمتُها، فبيَّن تعالى حكمتَها ومنفعتَها، وهكذا سائر أحكامه الشرعيَّة؛ فإنَّها كلَّها هدى ورحمةٌ، أخبر بحكم عام، فقال: {هو الذي أرسل رسولَه بالهُدى}: الذي هو العلمُ النافعُ، الذي يهدي من الضلالة، ويبيِّن طرقَ الخير والشرِّ، {ودين الحقِّ}؛ أي: الدين الموصوف بالحقِّ، وهو العدل والإحسان والرحمة، وهو كلُّ عمل صالح مزكٍّ للقلوب مطهِّرٍ للنفوس مربٍّ للأخلاق معلٍ للأقدار، {ليظهِرَه}: بما بعثَه الله به {على الدِّين كلِّه}: بالحجَّة والبرهان، ويكون داعياً لإخضاعهم بالسيف والسنان.
(28) Mengingat peristiwa ini memperkeruh hati sebagian orang Mukmin di mana mereka tidak dapat mengetahui hikmah-nya, Allah سبحانه وتعالى pun menjelaskan hikmah dan manfaatnya dan seperti itulah halnya seluruh hukum-hukum syariat, semua hukum adalah petunjuk dan rahmat yang diberitahukan secara umum. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ ﴿ "Dia-lah yang mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk," yaitu dengan ilmu yang bermanfaat yang bisa menyelamatkan manusia dari kesesatan serta menjelas-kan berbagai jalan yang baik dan buruk, ﴾ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ ﴿ "dan agama yang haq," yaitu agama yang disifati dengan kebenaran yang berupa keadilan, kebaikan dan rahmat, semuanya adalah amal shalih yang bisa membersihkan hati, menyucikan jiwa, menumbuhkan akhlak baik dan meninggikan derajat diri, ﴾ لِيُظۡهِرَهُۥ ﴿ "agar dimenangkanNya," dengan membawa agama yang diembankan oleh Allah سبحانه وتعالى ﴾ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦۚ ﴿ "terhadap semua agama," dengan hujjah dan bukti nyata yang menjadi penyebab untuk menundukkan mereka, baik dengan pe-dang dan lisan. ﴾ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدٗا ﴿ "Dan cukuplah Allah sebagai saksi."
Ayah: 29 #
{مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (29)}
"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi ber-kasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir dengan (kekuatan) mereka (orang-orang Muk-min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar." (Al-Fath: 29).
#
{29} يخبر تعالى عن رسوله محمد - صلى الله عليه وسلم - وأصحابه من المهاجرين والأنصار؛ أنَّهم بأكمل الصفات وأجلِّ الأحوال، وأنَّهم {أشداءُ على الكفَّارِ}؛ أي: جادِّين ومجتهدين في عداوتهم، وساعين في ذلك بغاية جهدهم، فلم يروا منهم إلاَّ الغلظةَ والشدَّةَ؛ فلذلك ذلَّ أعداؤُهم لهم وانكسروا وقهرهم المسلمون، {رحماءُ بينَهم}؛ أي: متحابُّون متراحمون متعاطفون كالجسد الواحد، يحبُّ أحدُهم لأخيه ما يحبُّ لنفسه، هذه معاملتُهم مع الخلق، وأمَّا معاملتُهم مع الخالق؛ فتراهم {رُكَّعاً سجداً}؛ أي: وصفهم كثرة الصلاة التي أجلُّ أركانها الركوع والسجود، {يبتغونَ}: بتلك العبادة {فضلاً من الله ورضواناً}؛ أي: هذا مقصودهم، بلوغُ رضا ربِّهم والوصول إلى ثوابِهِ {سيماهم في وجوهِهِم من أثرِ السُّجودِ}؛ أي: قد أثَّرت العبادة مِنْ كثرتِها وحسنِها في وجوههم حتى استنارتْ، لمَّا استنارت بالصلاة بواطنهم؛ استنارتْ ظواهِرُهم. {ذلك}: المذكور {مَثَلُهُم في التَّوراةِ}؛ أي: هذا وصفُهم الذي وصَفَهم الله به مذكورٌ بالتوراة هكذا. وأما {مثلهم في الإنجيل}؛ فإنَّهم موصوفون بوصف آخر، وأنَّهم في كمالهم وتعاونهم {كزرع أخْرَجَ شطأه فآزره}؛ أي: أخرج فراخه فوازرتْه فراخُهُ في الشباب والاستواء، {فاستغلظَ}: ذلك الزرع؛ أي: قوي وغلظ، {فاستوى على سوقِهِ}: جمع ساق، {يعجِبُ الزُّرَّاعَ}: من كماله واستوائه وحسنه واعتداله، كذلك الصحابة رضي الله عنهم هم كالزرع في نفعهم للخلق واحتياج الناس إليهم، فقوَّة إيمانهم وأعمالهم بمنزلة قوَّة عروق الزرع وسوقِهِ، وكون الصغير والمتأخِّر إسلامه قد لَحِقَ الكبير السابق، ووازره وعاونه على ما هو عليه من إقامة دينِ الله والدعوةِ إليه، كالزرع الذي أخْرَجَ شَطأه فآزره فاستغلظ، ولهذا قال: {لِيَغيظَ بهم الكفارَ}: حين يَرَوْنَ اجتماعهم وشدَّتهم على دينهم، وحين يتصادمون هم وهم في معارك النِّزال ومعامع القتال، {وَعَدَ الله الذين آمنوا وعَمِلوا الصالحات منهم مغفرةً وأجراً عظيماً}: فالصحابة رضي الله عنهم، الذين جمعوا بين الإيمان والعمل الصالح، قد جمع الله لهم بين المغفرةِ التي من لوازمها وقايةُ شرور الدُّنيا والآخرة والأجر العظيم في الدنيا والآخرة.
(29) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang RasulNya, Muhammad a, dan para sahabat beliau dari kalangan Muhajirin dan Anshar, bahwasanya mereka adalah sosok dengan sifat yang paling mulia dan kondisi pribadi yang paling luhur, dan mereka, ﴾ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلۡكُفَّارِ ﴿ "keras terhadap orang-orang kafir." Artinya serius dan bersungguh-sungguh dalam memusuhi orang-orang kafir serta mencurahkan segenap tenaga untuk memusuhi orang-orang kafir. Yang terlihat dari mereka hanyalah sikap keras dan tegas. Karena itulah musuh-musuh mereka menjadi takluk hingga tidak bisa menguasai orang-orang Muslim, ﴾ رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡۖ ﴿ "tetapi berkasih sayang sesama mereka," artinya, mereka saling menyayangi, mengasihi, serta saling ber-sikap lemah lembut laksana satu tubuh, menyayangi saudaranya seperti halnya menyayangi diri sendiri dan inilah interaksi mereka terhadap sesama manusia. Adapun hubungan mereka terhadap Sang Pencipta, kamu dapat menyaksikan sendiri di mana mereka ﴾ رُكَّعٗا سُجَّدٗا ﴿ "rukuk dan sujud," Allah سبحانه وتعالى menyifati mereka sebagai orang-orang yang banyak shalat, di mana rukuk dan sujud merupakan rukun shalat yang ter-besar. ﴾ يَبۡتَغُونَ ﴿ "Mereka mencari," dengan ibadah itu, ﴾ فَضۡلٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٗاۖ ﴿ "karunia Allah dan keridhaanNya." Artinya, itulah maksud dan tujuan mereka yaitu mencari keridhaan Rabb mereka serta mencapai pahalaNya. ﴾ سِيمَاهُمۡ فِي وُجُوهِهِم مِّنۡ أَثَرِ ٱلسُّجُودِۚ ﴿ "Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud." Artinya, banyak serta baiknya ibadah yang mereka lakukan itu membekas di wajah mereka hingga wajah mereka bersinar. Karena batin mereka bersinar disebabkan shalat, maka lahir mereka juga bersinar. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah," yakni, yang tersebut itu ﴾ مَثَلُهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِۚ ﴿ "sifat-sifat mereka dalam Taurat," artinya sifat-sifat yang disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى untuk mereka itu juga disebutkan dalam Taurat. Sedangkan ﴾ وَمَثَلُهُمۡ فِي ٱلۡإِنجِيلِ ﴿ "sifat-sifat mereka dalam Injil," me-reka disebut dengan sifat-sifat yang berbeda, yaitu, bahwasanya kesempurnaan pribadi mereka serta saling tolong menolong di antara mereka adalah ﴾ كَزَرۡعٍ أَخۡرَجَ شَطۡـَٔهُۥ فَـَٔازَرَهُۥ ﴿ "seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya," artinya mengeluarkan tunasnya hingga kuat, ﴾ فَٱسۡتَغۡلَظَ ﴿ "maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat," yaitu kuat dan kokoh, ﴾ فَٱسۡتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِۦ يُعۡجِبُ ٱلزُّرَّاعَ ﴿ "lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya," karena sempurna, tegak, indah dan lurus. Seperti itu juga para sahabat رضي الله عنهم, mereka laksana tanaman karena bisa memba-wa manfaat bagi makhluk serta diperlukan oleh manusia. Kuatnya keimanan dan amal mereka laksana kekuatan akar dan batang tanaman. Kalangan sahabat muda serta yang terlambat masuk Islam sama seperti sahabat-sahabat senior yang telah masuk Islam terlebih dahulu. Mereka saling tolong menolong dan menguatkan dengan keimanan yang dimiliki untuk menegakkan Agama Allah سبحانه وتعالى serta menyeru manusia kepadanya laksana tanaman yang me-ngeluarkan tunasnya hingga bisa mengokohkan dan menguatkan tanaman itu. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لِيَغِيظَ بِهِمُ ٱلۡكُفَّارَۗ ﴿ "Ka-rena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir dengan (kekuatan) mereka (orang-orang Mukmin)," yakni pada saat orang-orang kafir melihat kebersamaan serta kekokohan kaum Mukminin di atas agama mereka dan pada saat orang-orang kafir berhadapan dengan kaum Mukminin dalam peperangan. ﴾ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِنۡهُم مَّغۡفِرَةٗ وَأَجۡرًا عَظِيمَۢا ﴿ "Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar," yakni, para sahabat رضي الله عنهم yang menyatukan antara iman dan amal shalih sehingga Allah سبحانه وتعالى menyatukan antara ampunan yang di antara keharusannya ada-lah terjaganya mereka dari keburukan dunia dan akhirat dengan pahala yang besar, baik dunia dan di akhirat untuk mereka.
Berikut akan kami ketengahkan kisah perjanjian Hudaibiyah secara panjang lebar seperti yang disebutkan oleh Imam Syamsud-din Ibnul Qayyim dalam al-Hadi an-Nabawi, penjelasan kisah ini bisa membantu kita untuk memahami surat al-Fath, di mana Imam Syamsuddin Ibnul Qayyim menjelaskan makna serta rahasia-raha-sia yang terdapat dalam surat al-Fath. Ibnul Qayyim 5 berkata, KISAH PERJANJIAN HUDAIBIYAH[93] Nafi' berkata, "Perjanjian Hudaibiyah terjadi pada tahun ke-6 Hijriyah, bulan Dzulqa'dah," dan inilah yang benar sebagaimana yang dikemukakan oleh az-Zuhri, Qatadah, Musa bin Uqbah, Muhammad bin Ishaq dan lainnya. Hisyam bin Urwah meriwayat-kan dari ayahnya, "Rasulullah a berangkat menuju Hudaibiyah pada bulan Ramadhan, dan peristiwa Hudaibiyah terjadi pada bulan Syawwal." Dan riwayat ini keliru, sebab yang terjadi pada bulan Ramadhan adalah peristiwa penaklukan kota Makkah. Abu al-Aswad meriwayatkan dari Urwah, "Perjanjian Hudaibiyah menurut pendapat yang benar terjadi pada bulan Dzulqa'dah." Disebutkan dalam ash-Shahihain,[94] dari Anas bahwasanya Nabi a melakukan umrah sebanyak empat kali, semuanya dilakukan dalam bulan Dzulqa'dah, Anas menyebutkan bahwa di antaranya adalah Umrah Hudaibiyah ini. Rasulullah a berangkat bersama seribu lima ratus orang sahabat. Seperti inilah yang dijelaskan dalam ash-Shahihain[95] dari Jabir. Disebutkan juga dalam ash-Shahihain dari Jabir: Mereka ber-jumlah seribu empat ratus.[96] Disebutkan juga dalam ash-Shahihain bersumber dari Abdullah bin Abu Aufa, "Kami berjumlah seribu tiga ratus orang."[97] Qatadah berkata, "Aku bertanya pada Sa'id bin al-Musayyib, 'Berapa jumlah orang yang mengikuti Bai'at ar-Ridhwan?' Sa'id bin al-Musayyib menjawab, 'Seribu lima ratus.' Aku (Qatadah) berkata, 'Jabir bin Abdullah menyatakan, 'Mereka berjumlah seribu empat ratus orang.' Sa'id menjawab, 'Semoga Allah merahmatinya, ia salah, ia pernah memberitahukan kepadaku bahwa jumlah mereka adalah seribu lima ratus orang'." Aku (Ibnul Qayyim) berkata, "Dua pendapat ini adalah shahih dari Jabir, dan shahih pula riwayat bahwa para sahabat menyembelih sembilan puluh unta dalam peristiwa Hudaibiyah. Ada yang bertanya padanya, 'Berapa jumlah kalian?' Jabir menjawab, 'Seribu empat ratus, penunggang kuda dan pejalan kaki.' Hatiku condong pada pendapat ini.'" Pendapat ini juga diriwayatkan dari al-Bara` bin 'Azib, Ma'qal bin Yasar, Salamah bin al-Akwa' dalam salah satu dari dua pendapat yang kuat dan al-Musayyib bin Hazn. Syu'bah meriwayatkan dari Qadatah dari Sa'id bin al-Musay-yib dari ayahnya, "Kami berjumlah seribu empat ratus orang ber-sama Rasulullah a di bawah pohon itu." Adalah sangat salah jika ada yang menyatakan mereka berjumlah tujuh ratus orang karena jumlah unta yang disembelih pada waktu itu berjumlah tujuh puluh ekor unta. Satu unta umumnya dibagi untuk tujuh atau sepuluh orang. Jumlah unta tidak menunjukkan kebenaran pendapat ini. Sebab telah disebutkan dengan jelas bahwa satu unta dalam peris-tiwa ini dibagi untuk tujuh orang. Andai tujuh puluh unta itu dibagikan untuk seluruh sahabat yang ada, tentu jumlah mereka mencapai empat ratus sembilan puluh orang. Padahal disebutkan oleh Jabir dalam hadits itu sendiri jumlah mereka mencapai seribu empat ratus orang. PASAL Ketika mereka sampai di Dzul Hulaifah, Rasulullah a me-ngalungkan tanda hewan hadyu pada hewan kurban, dan menan-dai bulu-bulunya kemudian berihram untuk umrah, selanjutnya mengutus seorang mata-mata yang berasal dari Bani Khuza'ah untuk mencari tahu tentang Quraisy. Sesampainya di dekat daerah Usfan, mata-mata Rasulullah a mendatanginya seraya berkata, "Aku melihat Ka'ab bin Lu`ai mengumpulkan berbagai kabilah untuk memerangimu dan menghalang-halangimu dari Baitullah." Nabi a meminta pendapat dari kalangan sahabat. Ada yang ber-kata, "Bagaimana pendapat engkau jika kita serang anak-anak kabi-lah mereka yang menolong mereka sehingga kita bisa membunuh mereka? Jika mereka hanya diam saja, mereka pasti kalah, jika pun mereka selamat, semoga Allah سبحانه وتعالى memotong leher mereka, atau bagaimana pendapat engkau jika kita mendatangi Baitullah dan siapa pun yang menghalangi kita perangi?" Abu Bakar berkata, "Allah dan RasulNya lebih tahu, kita hanya datang untuk berum-rah, kita tidak datang untuk memerangi seorang pun, hanya saja siapa pun yang menghalangi kita untuk mencapai Baitullah kita perangi?" Nabi a bersabda, "Kalau begitu silahkan kalian berjalan." Para sahabat pun berjalan hingga ketika sampai di sebagian jalan, Nabi a bersabda, "Sesungguhnya Khalid bin al-Walid berada di Ghamim dalam sebuah pasukan berkuda milik Quraisy (yaitu pasukan depan), ambil jalur kanan." Demi Allah, Khalid tidak merasakan kehadiran kaum Muslimin hingga berada di belakang mereka hingga pasukan Khalid pun lari seraya memberikan peri-ngatan pada kaum Quraisy. Nabi a terus berjalan hingga sampai di bukit Tsaniyah, tem-pat Khalid dan para pasukannya turun. Unta Rasulullah a lalu duduk, para sahabat berkata, "Berdiri, berdiri." Unta Rasulullah a tetap duduk. Para sahabat pun berkata, "Qaswa menderum, Qaswa menderum." Nabi a bersabda, "Tidak biasanya Qaswa menderum karena itu bukan kebiasaannya, hanya saja ia ditahan oleh yang menahan tentara gajah (Abrahah)." Selanjutnya Nabi a bersabda, "Demi Dzat yang jiwaku berada di TanganNya, tidaklah mereka mengajakku kepada sesuatu yang di dalamnya mereka mengagung-kan keharaman Allah melainkan mereka pasti kupenuhi." Kemu-dian Nabi a memukul untanya, lalu berdiri dan berjalan hingga mencapai ujung Hudaibiyah di sebuah sumur yang berisi sedikit air sehingga orang-orang hanya dapat mengambil sedikit saja hingga air pun habis. Orang-orang yang kehausan pun mengadu pada Nabi a, kemudian Nabi a mencabut satu anak panah dari sarung panahnya dan memerintahkan agar panah itu ditancapkan di dalam sumur itu. Ia (Jabir) berkata, "Demi Allah! Air di sumur itu mengalir dengan deras hingga semua orang kenyang sampai mereka meninggalkannya." Kaum Quraisy terkejut dengan kedatangan Nabi a kemudian Nabi a ingin mengutus seseorang dari kalangan sahabatnya untuk menemui kaum Quraisy. Rasulullah a memanggil Umar bin al-Khaththab untuk diutus menemui kaum Quraisy, Umar bin al-Khaththab berkata, "Wahai Rasulullah! Tidak ada seorang pun di Makkah dari kalangan Bani Ka'ab yang akan membelaku jika aku disakiti, maka utuslah Utsman bin Affan, karena di sana terdapat keluarganya dan ia akan menyampaikan apa yang engkau ingin-kan." Kemudian Rasulullah a memanggil Utsman bin Affan untuk diutus menemui kaum Quraisy. Rasulullah a bersabda, "Beritahu-kan mereka, aku tidak datang untuk berperang, aku hanya datang untuk berumrah dan serulah mereka kepada Islam." Utsman bin Affan juga diperintahkan untuk mendatangi kalangan orang-orang beriman, baik lelaki maupun perempuan yang ada di Makkah. Utsman juga diperintahkan untuk mendatangi mereka dan mem-beri kabar gembira kepada mereka dengan penaklukan kota Makkah. Utsman juga diperintahkan untuk memberitahukan kepada mereka bahwa Allah سبحانه وتعالى akan memenangkan AgamaNya di Makkah hingga orang-orang yang berada di Makkah tidak perlu menyembunyikan keimanannya. Utsman pun pergi. Ia melewati kaum Quraisy di kawasan Baldah. Kaum Quraisy bertanya, "Hendak kemana kamu?" Utsman bin Affan menjawab, "Rasulullah a mengutusku untuk menyeru kalian kepada Allah dan kepada Islam, aku memberitahukan kalian bahwa kami tidak datang untuk berperang, kami datang hanya untuk berumrah." Kaum Quraisy berkata, "Kami telah mendengar ucapanmu, silahkan laksanakan keperluanmu." Aban bin Sa'id bin al-'Ash mendekatinya, dan menyambutnya, ia pun naik kuda seraya mengikutsertakan Utsman di atas kudanya. Aban bin Sa'id bin al-'Ash memberinya perlindungan dan mengantarkannya hingga tiba di Makkah. Kaum Muslimin sebelum tibanya Utsman bin Affan berkata, "Utsman telah pergi mendahului kita ke Baitullah dan berthawaf." Rasulullah a bersabda, "Aku tidak mengira ia berthawaf di Baitullah sedangkan kita tertahan di sini." Mereka berkata, "Apa yang menghalanginya wahai Rasulullah, ia telah pergi." Rasulullah a bersabda, "Itulah dugaanku, ia tidak akan berthawaf di Ka'bah hingga kita berthawaf bersamanya." Kaum Muslimin pun berbaur dengan kaum musyrikin dalam masalah perjanjian, salah seorang dari kedua kubu itu melempar seorang dari kubu lainnya hingga hampir terjadi peperangan, me-reka saling melempar tombak dan batu. Kedua kubu pun berteriak. Masing-masing dari kedua kubu menjadikan orang-orang yang ada di barisannya sebagai jaminan (sandra). Saat itu sampailah kepada Rasulullah a berita bahwa Utsman telah dibunuh. Maka Rasulullah a pun menyeru kaum Muslimin untuk berbai'at. Kaum Muslimin pun menghampiri Rasulullah a yang berada di bawah sebuah pohon, mereka pun berbai'at setia kepada Rasulullah a untuk tidak lari, Rasulullah a dengan tangannya sendiri menjabat tangan me-reka seraya bersabda, "Bai'at ini adalah untuk Utsman." Seusai berbai'at, Utsman ternyata kembali, kaum Muslimin berkata kepadanya, "Hai Abu Abdullah! Engkau telah berthawaf di Baitullah?" Utsman menjawab, "Teramat buruk dugaan kalian terhadapku, demi Dzat yang jiwaku berada di TanganNya, andai aku berada di sana selama setahun sedangkan Rasulullah a berada di Hudaibiyah, tentu aku tidak akan berthawaf sebelum Rasulullah a berthawaf, kaum Quraisy mengajakku untuk berthawaf di Bai-tullah, tapi aku enggan." Kaum Muslimin pun berkata, "Rasulullah a adalah yang paling tahu tentang Allah dari kami dan yang paling baik prasangkanya." Umar bin Al-Khaththab menjabat tangan Rasululah untuk berbai'at kepada Rasulullah a di bawah sebatang pohon di sana, kemudian diikuti oleh semua kaum Muslimin kecuali al-Jadd bin Qais. Ma'qal bin Yasar adalah sahabat yang mengangkat dahan pohon itu agar tidak mengenai Rasulullah a. Sahabat pertama yang berbai'at kepada Rasulullah a adalah Abu Sinan al-Anshari. Salamah bin al-Akwa' berbai'at kepada Rasulullah a sebanyak tiga kali, di permulaan, di pertengahan, dan di akhir. Di saat mereka tengah berbai'at, tiba-tiba Budail bin Warqa' al-Khuza'i datang dalam sekelompok orang dari Bani Khuza'ah. Mereka adalah penyimpan berita (dan rahasia) untuk Rasulullah a dari penduduk Tihamah. Ia berkata, "Kami melihat Ka'ab bin Lu`ai dan Amir bin Lu`ai berada di sumur air Hudaibiyah, dan unta-unta gemuk serta ibu-ibu dengan anak-anaknya ikut bersama mereka, mereka ingin memerangimu dan menghalangimu dari Baitullah." Rasulullah a bersabda, "Sesungguhnya kami tidak da-tang untuk memerangi seorang pun, kami datang untuk berumrah, orang-orang Quraisy sendiri telah kalah dalam peperangan dan disusahkan oleh peperangan, jika mereka mau, niscaya aku beri mereka tempo waktu (di mana tidak ada perang antara kami dan mereka) hingga mereka membiarkan antara aku dan orang-orang, jika mereka mau masuk Islam sebagaimana yang dilakukan orang-orang, silahkan dan jika pun tidak, mereka telah berjumlah banyak, namun jika mereka hanya menginginkan peperangan, maka demi Dzat yang jiwaku berada di TanganNya, niscaya aku akan meme-rangi mereka di atas urusanku ini hingga aku mati atau Allah mewujudkan urusanNya." Budail berkata, "Akan aku sampaikan kepada mereka apa yang Anda sabdakan." Kemudian Budail pun bergegas mendatangi kaum Quraisy seraya berkata, "Aku menda-tangi kalian setelah aku bertemu dengan orang ini (yakni Nabi a), aku mendengarnya mengatakan sesuatu, jika kalian mau, akan aku sampaikan pada kalian." Orang-orang bodoh dari kalangan Quraisy berkata, "Kami tidak perlu berbicara apa pun dengannya." Adapun mereka yang berakal mengatakan, "Sampaikan apa yang kau dengar." Budail berkata, "Aku mendengarnya berkata begini dan begini." [Budail pun menyampaikan sabda Nabi a]. Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi berkata, "Orang ini telah menyampaikan tawaran yang lurus (baik) kepada kalian, maka terimalah dan biarkan aku men-datanginya." Kaum Quraisy berkata, "Silahkan engkau datangi." Urwah pun mendatangi Rasulullah a dan berbicara dengannya, Nabi a bersabda seperti yang disabdakan pada Budail. Maka ketika itu Urwah berkata, "Hai Muhammad! Bagaimana pendapatmu jika kau membinasakan kaummu, apakah engkau pernah mendengar seseorang dari kalangan Arab sebelummu yang membinasakan keluarganya sendiri? Jika pun ada, demi Allah! Tentu aku akan melihat wajah-wajah orang gembel yang berlari dan meninggal-kanmu." Abu Bakar berkata pada Urwah bin Mas'ud, "Hisap saja kelentit Latta, apakah kami akan lari meninggalkannya?" Urwah bertanya, "Siapa dia?" Kaum Muslimin menjawab, "Abu Bakar." Urwah berkata, "Demi Dzat yang jiwaku berada di TanganNya! Andai engkau dulunya tidak memiliki jasa terhadapku, tentu aku akan membalas ucapanmu." Ia pun berbicara lagi dengan Nabi a, setiap kali berbicara ia selalu memainkan jenggot Rasulullah a, ke-tika itu al-Mughirah bin Syu'bah berada di dekat kepala Rasulullah a, ia membawa pedang sedangkan Urwah kala itu mengenakan baju besi. Acap kali Urwah hendak meraih jenggot Nabi a, al-Mughirah bin Syu'bah langsung memukul tangannya dengan ga-gang pedangnya seraya berkata, "Jauhkan tanganmu dari jenggot Rasulullah a," kemudian Urwah menegakkan kepalanya dan berkata, "Siapa dia?" Rasulullah a menjawab, "Al-Mughirah bin Syu'bah," Urwah berkata, "Hai pengkhianat! Bukankah aku dulu pernah berusaha untuk mencegah kejahatanmu?" Al-Mughirah dulunya pernah bersama sekelompok kaum musyrikin kemudian dia membunuh mereka dan harta mereka dia ambil, setelah itu al-Mughirah masuk Islam, saat itu Rasulullah a bersabda, "Berkaitan dengan Islam, maka aku bisa menerima, adapun masalah harta, maka aku tidak bertanggung jawab sedikit pun." Sepintas Urwah memandang sahabat-sahabat Rasulullah a dengan dua matanya sendiri dan demi Allah! Tidaklah Rasulullah a meludah melainkan pasti jatuh di tangan salah seorang dari sahabat-sahabatnya kemudian diusapkan ke kulit dan wajahnya, jika mereka diperintahkan, mereka segera menunaikan perintahnya, jika Rasulullah a berwudhu mereka hampir saja saling menyerang untuk mendapatkan sisa air wudhunya, jika berbicara, mereka merendahkan suaranya di hadapan Rasulullah a, mereka enggan memandangnya sebagai penghormatan. Kemudian Urwah kembali pulang menuju kaumnya seraya berkata, "Hai kaum, demi Allah! Aku pernah mendatangi berbagai raja, raja Kisra, Kaisar dan Najasy, demi Allah! Aku belum pernah melihat seorang raja pun yang begitu diagungkan oleh para pengikutnya seperti yang dilakukan oleh para sahabat Muhammad yang begitu mengagungkan Muhammad. Demi Allah! Tidaklah Muhammad meludah kecuali pasti jatuh di tangan salah seorang dari mereka kemudian diusapkan ke kulit dan wajahnya, jika Muhammad memerintah sesuatu, mereka langsung menunaikannya, jika Muhammad berwudhu, mereka hampir saja berperang hanya untuk memperebutkan sisa air wudhunya, jika berbicara, mereka merendahkan suaranya di hadapan Muhammad dan tidak berani menatapnya karena memuliakan, ia telah mena-warkan langkah lurus (baik) pada kalian, maka terimalah." Seseorang dari Bani Kinanah berkata, "Biarkan aku menda-tanginya." Mereka berkata, "Datangilah dia." Ketika orang itu nampak dari kejauhan, Rasulullah a bersabda, "Dia adalah fulan, dia berasal dari kaum yang menghormati hewan kurban, maka giringlah hewan-hewan kurban itu agar kelihatan olehnya." Maka orang-orang mendekatkan hewan kurban dan kaum Muslimin berpapasan dengannya seraya mengucapkan talbiyah. Ketika lelaki itu menyaksikan pemandangan tersebut, ia berkata, "Subhanallah, tidaklah pantas bila mereka dihalang-halangi untuk sampai ke Baitullah." Ketika ia kembali kepada teman-temannya (kaum Quraisy) ia berkata, "Aku telah menyaksikan dengan mata kepala-ku sendiri hewan-hewan kurban telah dikalungi dan diberi tanda, maka menurut saya tidaklah pantas bila mereka dihalang-halangi untuk sampai ke Baitullah." Seseorang dari mereka yang bernama Mikraz bin Hafs ber-kata, "Biarkan aku yang mendatanginya." Mereka berkata, "Datangi-lah." Ketika Rasulullah a melihat dari kejauhan, beliau bersabda, "Orang itu adalah Mikraz, seorang jahat (durjana)." Kemudian Mikraz berbicara dengan Rasulullah a, ketika sedang berbicara, tiba-tiba datanglah Suhail bin Amr. Maka Nabi bersabda, "Allah telah memudahkan urusan kalian (dengan datangnya orang ini)." Suhail berkata, "Marilah kita laksanakan perjanjian antara kita ke dalam suatu naskah perjanjian." Rasulullah a memanggil Ali رضي الله عنه dan memerintahkan kepada-nya, "Tulislah 'Bismillahirrahmanirrahim' (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang)." Tetapi Suhail memotong dan mengatakan, "Ar-Rahman, demi Allah! Aku tidak mengerti apa maksudnya, tapi tuliskan saja 'Bismikallahumma' (Dengan menyebut namaMu, ya Allah) seperti yang biasanya kalian tulis." Para sahabat menjawab, "Demi Allah! Kami tidak mau menu-lisnya kecuali dengan 'Bismillahirrahmanirrahim." Maka Rasulullah a menengahi ketegangan tersebut seraya bersabda; "Tulislah 'Bismikallahumma,'" kemudian beliau melanjutkan, "Ini adalah ke-putusan Muhammad, utusan Allah." Suhail kembali memprotes, "Demi Allah! Andai kami menge-tahui bahwa engkau adalah utusan Allah, tentu kami tidak meng-halang-halangimu untuk sampai ke Baitullah dan tentu kami tidak memerangimu, tapi tulislah 'Muhammad bin Abdullah." Rasulullah a pun bersabda; "Demi Allah! Sesungguhnya aku benar-benar utusan Allah sekalipun kalian mendustakanku, tulislah Muhammad bin Abdullah." Kemudian Rasulullah a berkata kepada Suhail, "Dengan syarat hendaklah kalian membiarkan kami mengunjungi Baitullah, kami akan berthawaf." Suhail berkata, "Demi Allah! Demi mencegah agar orang-orang Arab jangan membicarakan bahwa kami ditekan, tetapi sebaliknya hal itu dilakukan pada tahun depan (bukan saat ini)." Suhail mengajukan syarat, "Dan syarat lainnya adalah jika ada orang dari kalangan kami yang datang kepadamu, sekalipun ia memeluk agamamu, engkau harus mengembalikan-nya kepada kami." Kaum Muslimin berkata, "Subhanallah, mana mungkin dia dikembalikan pada orang-orang musyrik sedangkan dia datang dalam keadaan Muslim." Ketika mereka sedang dalam keadaan demikian, tiba-tiba datanglah Abu Jandal bin Suhail bin Amr dalam keadaan terbelenggu dengan rantai. Dia melarikan diri dari Makkah melalui jalan yang terendah hingga sampailah dia di hadapan kaum Muslimin. Suhail berkata, "Hai Muhammad, ini adalah orang pertama yang termasuk dalam perjanjian yang harus engkau tepati, engkau harus mengembalikannya (padaku)." Rasulullah a bersabda, "Kita masih belum menyelesaikan naskah perjanjian ini." Suhail bin Amr berkata, "Kalau begitu, demi Allah! Aku tidak mau berdamai denganmu atas sesuatu pun selamanya." Rasulullah a mendesak, "Kalau begitu, izinkan dia demi aku." Suhail menjawab, "Aku tidak akan mengizinkannya (untukmu)." Rasulullah a mendesak lagi, "Tidak, biarkanlah dia untukku." Suhail tetap bersikeras, "Aku tidak akan mengizinkan kau meng-ambilnya." Mikraz berkata, "Ya, kami membolehkanmu meng-ambilnya." Abu Jandal berkata, "Hai orang-orang Muslim! Apakah aku akan dikembalikan kepada orang-orang musyrik, padahal aku datang sebagai seorang Muslim, tidakkah kalian melihat apa yang telah aku alami?" Abu Jandal selama itu disiksa karena memper-tahankan Agama Allah سبحانه وتعالى. Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه mengatakan, "Demi Allah, sejak masuk Islam, aku tidak pernah ragu kecuali pada hari itu, maka aku mendatangi Rasulullah a dan bertanya, "Bukankah engkau nabi Allah yang sebenarnya?" Rasulullah a menjawab, "Benar," Umar bertanya, "Bukankah kita berada di pihak yang benar dan musuh kita berada di pihak yang batil?" Rasulullah a menjawab, "Benar," Umar berkata, "Lantas mengapa kita mengalah dalam membela Agama kita?" Rasulullah a bersabda, "Sesungguhnya aku adalah utusan Allah, aku tidak akan mendurhakaiNya dan Dia pasti akan menolongku." Umar bertanya, "Bukankah Anda pernah mengatakan kepada kami bahwa kita akan datang ke Baitullah dan melakukan thawaf?" Rasulullah a menjawab, "Benar, tetapi apakah aku mengatakan kepadamu bahwa kita akan mendatangi-nya tahun ini?" Umar menjawab, "Tidak," kemudian Rasulullah a bersabda, "Sesungguhnya engkau akan mengunjungi Baitullah dan berthawaf." Setelah itu, Umar mendatangi Abu Bakar dan bertanya, "Hai Abu Bakar, bukankah dia nabi Allah sebenarnya?" Abu Bakar menjawab, "Benar," Umar bertanya, "Bukankah kita berada di pihak yang benar sedangkan musuh kita berada di pihak yang batil?" Abu Bakar menjawab, "Benar," Umar bertanya, "Lalu mengapa kita mengalah dalam membela Agama kita?" Abu Bakar merasa kesal, lalu berkata, "Hai orang, dia adalah utusan Allah dan beliau tidak akan mendurhakaiNya, Dia pasti menolongnya, maka terimalah apa yang ditetapkannya, demi Allah! Sesungguhnya dia berada pada keputusan yang benar." Umar berkata, "Bukankah dia telah berbicara kepada kita bahwa kita akan mendatangi Baitullah dan berthawaf?" Abu Bakar menjawab, "Benar," Abu Bakar balik ber-tanya, "Apakah beliau mengatakan kepadamu bahwa kita akan mendatangi Baitullah tahun ini?" Umar menjawab, "Tidak," Abu Bakar berkata, "Sesungguhnya engkau pasti akan mendatangi Baitullah dan berthawaf." Seusai menulis isi perjanjian, Rasulullah a bersabda, "Ber-dirilah kalian dan sembelihlah hewan kurban kalian kemudian bercukurlah." Demi Allah, tidak ada seorang pun di antara mereka yang berdiri hingga Rasulullah a mengulangi sabdanya sebanyak tiga kali. Karena tidak ada seorang pun yang mau berdiri, Rasulullah a pun masuk ke tenda Ummu Salamah dan menceritakan pada-nya perlakuan yang diterima dari orang-orang, kemudian Ummu Salamah berkata, "Hai Nabi Allah! Apakah engkau menginginkan agar hal tersebut terlaksana, sekarang keluarlah dan jangan berkata sepatah kata pun kepada seorang pun sebelum engkau menyem-belih kurban dan kau panggil tukang cukur untuk mencukurmu." Rasulullah a pun keluar dari kemah dan tidak berbicara dengan siapa pun hingga melakukan apa yang telah disarankan Ummu Salamah. Beliau a menyembelih hewan kurbannya lalu memanggil tukang cukur untuk mencukur rambut beliau. Ketika para sahabat melihat hal tersebut, mereka segera bangkit menuju tempat hewan kurban masing-masing lalu menyem-belihnya dan sebagian dari mereka mencukur sebagian yang lain secara bergantian hingga sebagian dari mereka hampir membunuh sebagian yang lain karena kesal. Kemudian beberapa wanita beriman mendatangi Rasulullah a. Pada saat itulah turun ayat; ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا جَآءَكُمُ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ مُهَٰجِرَٰتٖ فَٱمۡتَحِنُوهُنَّۖ ٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِإِيمَٰنِهِنَّۖ فَإِنۡ عَلِمۡتُمُوهُنَّ مُؤۡمِنَٰتٖ فَلَا تَرۡجِعُوهُنَّ إِلَى ٱلۡكُفَّارِۖ لَا هُنَّ حِلّٞ لَّهُمۡ وَلَا هُمۡ يَحِلُّونَ لَهُنَّۖ وَءَاتُوهُم مَّآ أَنفَقُواْۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيۡكُمۡ أَن تَنكِحُوهُنَّ إِذَآ ءَاتَيۡتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّۚ وَلَا تُمۡسِكُواْ بِعِصَمِ ٱلۡكَوَافِرِ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepada-mu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami-suami) mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir." (Al-Mumtahanah: 10). Saat itu juga Umar menceraikan dua orang istrinya karena keduanya tetap dalam kemusyrikan, kemudian salah seorangnya dinikahi Mu'awiyah bin Abu Sufyan sedangkan yang lainnya dinikahi oleh Shafwan bin Umayyah (sebelum keduanya masuk Islam. Ed. T). Ketika Rasulullah a kembali ke Madinah, Allah سبحانه وتعالى menurun-kan padanya, ﴾ إِنَّا فَتَحۡنَا لَكَ فَتۡحٗا مُّبِينٗا 1 لِّيَغۡفِرَ لَكَ ٱللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنۢبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكَ وَيَهۡدِيَكَ صِرَٰطٗا مُّسۡتَقِيمٗا 2 وَيَنصُرَكَ ٱللَّهُ نَصۡرًا عَزِيزًا 3 ﴿ "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada kamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmatNya atasmu dan memberimu petunjuk kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak)." Sampai akhir surat. Umar bin al-Khaththab bertanya, "Apakah itu penaklukan wahai Rasulullah?" Rasulullah a menjawab, "Ya." Para sahabat berkata, "Selamat buatmu wahai Rasulullah, lantas bagian kami apa?" Maka Allah سبحانه وتعالى menurunkan ayat, ﴾ هُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ لِيَزۡدَادُوٓاْ إِيمَٰنٗا مَّعَ إِيمَٰنِهِمۡۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمٗا 4 ﴿ "Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang Mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana."
Inilah tafsir terakhir surat al-Fath. Segala puji dan nikmat hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata. Semoga kesejahteraan tetap terlimpahkan pada Nabi kita Muhammad a dan para sahabatnya. Saya menukil dari tulisan penafsirnya sendiri 5 dan semoga Allah سبحانه وتعالى mengampuni beliau. Ia usai menulis tafsirnya pada tanggal 13 Dzulhijjah 1345 H. Semoga Allah tetap melimpahkan kesejah-teraan pada Nabi kita Muhammad a dan para sahabatnya serta tetap memberikan keselamatan yang banyak hingga Hari Akhir. Amin. Ditulis oleh orang yang membutuhkan Rabbnya, Sulaiman bin Hamad al-Abdullah al-Bassam. Semoga Allah سبحانه وتعالى berkenan mengampuninya dan orang tuanya serta untuk seluruh kaum Muslimin, amin. Semoga Allah tetap melimpahkan kesejahteraan kepada nabi kita Muhammad a dan para sahabatnya serta tetap memberikan keselamatan yang banyak hingga Hari Akhir. Amin. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى yang dengan nikmatNya segala perbuatan baik terselesaikan.